SALAM WARAS

Perkenankan kami adalah putra-putri bangsa yang mempunyai idiologi dan idealisme yang tergabung dalam wadah non pemerintah, .kami berniat dengan tulus untuk ikut mendarmabaktikan potensi kami guna kemajuan bangsa dan memberi kontribusi kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Dengan program-program kami yang terlampir dibawah ini.

Karena suatu alasan yang mendesak, bahwa telah terjadi adanya keterpurukan peradaban social, budaya, ekonomi, karakter yang semua itu sering kita saksikan di berbagai media. Sebenarnya masih banyak lagi fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat yang tidak terekspose. Dan seperti kita ketahui bahwa belum ketemunya “win-win solution” yang menjadikan keadaan negera dirasakan aman, nyaman dan tentram oleh rakyatnya. Baca selanjutnya…

PENYEMBUHAN NON MEDIK SECARA SAPTA DARMA

​PENYEMBUHAN NON MEDIK,

DASAR PENGERTIANNYA,

MENURUT PENGHAYATAN AJARAN KEROHANIAN SAPTA DARMA

Diajukan sebagai naskah dalam seminar “peranan non medik didalam pengobatan” penyelenggaraan ikatan dokter Indonesia (i.d.i)

Sri Pawenang (Tuntunan Agung Jurubicara Kerokhanian Sapta Darma)

hal 1

Pengantar

Garis besar isi naskah ini sudah termuat dalam abstrak yang kami sampaikan kepada Panitia Penyelenggara Seminar beberapa hari lalu. Oleh karenanya tak perlu hal itu disinggung lagi.

Untuk memberikan penjelasan secara lengkap dan terperinci akan hal yang kami kemukakan adalah sulit, karena waktu yang diberikan yang memang harus terbatas tak memungkinkan untuk itu. Maka kami hanya akan mengemukakan hal2 yang esensial saja. Meskipun demikian diharapkan sudah dapat memberikan kejelasan yang diinginkan.

Hal-hal yang kami kemukakan sehubungan dengan “Penyembuhan Non Medik” banyak yang lebih bersifat abstrak daripada konkrit. Dan untuk yang demikian sering sukar untuk dijelaskan dengan logika ilmiah. Karenanya kami mencoba untuk memberikan keterangan dengan cara bukan menurut disiplin ilmiah secara murni, tetapi mempergunakan “dasar ilmiah dari suatu pengertian”, dalam tujuan memudahkan uraian penjelasan.

Keawaman dibidang Ilmu Pengetahuan lain (khususnya Ilmu Kedokteran dan Ilmu Alam) membuat penjelasan2 kadang2 terasa janggal, tidak sesuai dengan “disiplin” ilmu yang tersangkut. Namun hal yang demikian diharapkan tidak merupakan sebab dari timbulnya kekaburan pengertian dari “pengertian” yang dimaksud.
hal 2

A. Hubungan antara Makhluk didunia dengan Penciptanya.

Ajaran berdasarkan Ke Tuhanan memberikan pengertian bahwa semua yang ada milik Tuhan. Semua makhluk tercipta karena kehendak Tuhan. “Unsur” Ke Tuhanan merupakan “dzat”utama bagi keberadaan suatu makhluk. Tanpa ini suatu keberadaan (maya ataupun nyata)tidak akan pernah ada. Unsur itu adalah Sinar Cahya Allah. Sinar Cahya Allah berperan sejak awal, akhir dan selama keberadaan sesuatu makhluk. Keberadaan suatu makhluk selamanya tidak akan lepas dari “jangkauan” Sinar Cahya Allah. Sinar Cahya Allah meresap kedalam suatu keberadaan (abstrak ataupun konkrit) dan berubah menjadi pembentuk perwujudan. Pembentuk perwujudan itu “hidup” dan bergerak karena didukung oleh adanya Sinar Cahya Allah. Kemudian saling berkumpul, berkembang dan entah apa namanya untuk membentuk suatu perwujudan. Dalam kejadian itu Sinar Cahya Allah tetap merupakan unsur utama.

Keadaan dan kemampuan lingkungan yang tercipta sebelumnya ikut berperan dalam proses perubahan dan perkembangan Sinar Cahya Allah menjadi pembentuk perwujudan dan proses selanjutnya. Sehingga dapat dilihat adanya makhluk Tuhan yang bermacam wujud, bentuk, kelakuan, watak dan sifat. Peran dan wujud Sinar Cahya Allah sesudah terwujudnya makhluk, bermacam-macam. Sebagai atom2, sel2 dan bentuk2 lainnya yang nyata, ataupun wujud2 yang abstrak berupa rokhani, nafsu2, cipta, dan sebagainya. 
hal 3

B. Manusia, makhluk Tuhan yang tertinggi martabatnya.

Manusia mempunyai martabat paling tinggi diantara makhluk Tuhan yang lain karena Tuhan telah memberikan “peralatan” yang lebih lengkap dan sempurna dibandingkan yang diberikan kepada makhluk lain. Manusia dapat menjalankan kehidupannya berdasar program yang disusun oleh cipta, rasa dan karsa yang tidak mungkin dilakukan oleh makhluk lainnya. Perkembangan peradapan manusia yang menghasilkan seperti apa yang dapat dilihat menunjukkan “cerminan sifat2 Tuhan” yang diberikan kepada manusia melalui Rokhani manusia. Akan hal rokhani manusia, adanya cipta,rasa dan karsa Rokhaniah membuat manusia dengan mudah dapat mendekatkan diri kepada Tuhan untuk memohon. Dengan “memelihara” Rokhaninya, manusiapun dapat menggunakan “kekuatan-kekuatan” yang ada didalam pribadinya seoptimal mungkin untuk kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupannya. Dengan rohani pula manusia dapat mengendalikan nafsu2 yang ada dalam pribadinya untuk diarahkan pada tujuan2 baik. Alat-alat dan kemampuan2 itulah yang membuat manusia mempunyai martabat yang lebih tinggi daripada makhluk Tuhan yang lain.

hal 4

C. Penyembuhan dijalan Tuhan menurut Ajaran Kerohanuian Sapta Darma.

C1. Sakit, pengertiannya menurut Ajaran Kerokhanian Sapta Darma

Tubuh manusia terdiri dari atom2. Atom-atom merupakan sesuatu yang hidup, bergetar, bergerak, saling tarik membentuk sel2, jaringan sel2 dalam komponen2 tubuh yang disebut otak, hati, tulang, kulit dan organ tubuh lainnya. Komponen-komponen membentuk suatu jaringan dalam sistim yang sempurna. Pada tubuh manusia hidup yang normal, komponen2 dalam sistim merupakan komponen2 yang aktip dan kompak. Bergetar, berdenyut, bergerak, mengirim tanda, menyalurkan dan melaksanakan perintah, dll. dalam suatu tata kerja yang aktip, harmonis, bersama-sama mewujudkan sesuatu yang hidup. Atom, sel dan komponen dapat menjalankan tugas karena pada itu terdapat “tenaga penggerak” bagiseluruh kegiatan.

Tenaga itu adalah “getaran2 hidup” yang terdiri dari : “getaran2” Sinar Cahya Allah dalam pribadi manusia; Cipta, rasa dan karsa Rokhaniah dan getaran2 sari2 bumi. Jika diibaratkan, getaran2 hidup itu terhadap tubuh manusia : Sinar Cahya Allah sebagai “udara yang mengandung zat asam” bagi atom supaya tetap hidup;Cipta-rasa-karsa Rokhaniah merupalkan sumber tenaga bagi atom, sel, komponen agar tetap dapat bergerak; sedangkan sari2 bumi sebagai bahan bakar, minyak pelumas dan suku cadang.

Atom-atom dalam tubuh dapat mengambil daya dengan optimal jika atom2 dapat bekerja secara normal. Tersebut dapat terlaksana jika keseimbangan dan keselarasan tata kerja dalam sistim terpenuhi. Jika tidak, atom2 akan tak dapat sepenuhnya memanfaatka getaran2 hidup. Akibat lebih jauh adalah sel2, komponen2 yang dibentuknya kurang atau tak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Dalam tubuh yang “seimbang” getaran2 hidup mendukung tugas atom, sel dan komponen dengan cara yang seimbang. Artinya sesuai dengan sistim dan kebutuhan tiap atom, sel, komponen. Gangguan bagi pelaksanaan tugas getaran2 hidup membuat “pelayanan” yang diberikan menjadi kurang/tak sempurna. Ini berarti kebituhan tiap atom, sel, komponen tidak terterpenuhi sebagaimana mestinya, dan timbulah kelainan2 pada atom, sel dan komponen.

Kedua hal tersebut diatas, pelaksanaan tugas atom yang tidak normal dan ketidak sempurnaan getaran2 hidup melakukan tugasnya, merupakan sebab dari timbulnya kelainan2 dalam tubuh. Kelainan-kelainan ini yang dinamakan sakit.
hal 5

8.C.2. “Alat-alat dalam tubuh yang bisa dimanfaatkan dalam usaha penyembuhan.

Manusia hidup merupakan gabungan unsur jasmaniah dan unsur Rokhaniah. Wadag manusia dengan segala organ2 anatomis, yang dapat diraba, dilihat,(dengan mata biasa atau mikroskop) merupakan unsur jasmaniah nyata.”Alat2” jasmaniah yang adanya hanya dapat ditandai dengan rasa dan mata abstrak (mata batin, mata rokhani) merupakan unsur jasmaniah abstrak.

C.2.1. Unsur jasmaniah nyata.

Dalam tubuh manusia terdapat jaringan sarap dengan otak kecil sebagai pusatnya. Pada tempat2 tertentu dalam jaringan rasa terdapat talirasa2 (simpul sarap ?) yang ditandai dengan dua puluh macam nama. Talirasa yang dua puluh macam itu berjumlah tiga puluh buah, terletak di tiga puluh tempat dalam tubuh manusia.

Macam nama diambilkan dari nama2 hurup Jawa yang jumlahnya dua puluh.

Duapuluh macam nama, tiga puluh talirasa tersebut adalah:

1. “Ha” yang terletak dipangkal lidah (Bhs.Jw.: tenggok)

2. “Na” pada pangkal leher bagian depan, pada arah lurus dengan letak pipa napas bercabang.

3. “Ca” ditengah-tengah tulang dada (Jw.: Iga malang).

4. “Ra” pada ujung tulang dada (kecer ati).

5. “Ka” tepat pada pusat (puser).

6. “Da” di “bathukan”, sebelah atas kelamin.

7. “Ta” pada tulang ekor.

8. “Sa” pada rulang belakang (ula2), segaris lurus dengan “ka”.

9. “Wa” dibawah tulang belikat (enthong2). (2)

10. “La” tepat di tengkuk.

11. “Pa” diketiak kiri dan kanan. (2)

12. “Dha” pada siku bagian depan (lipatan siku). (2)

13. “Ja” terletak pada pergelangan tangan, bagian depan. (2)

14. “Ya” ditelapak tangan. (2)

15. “Nya” dibawah kedua tetek. (2)

16. “Ma” pada pangkal kedua selangkangan. (2)

17. “Ga” dibagian depan lutut.(2)

18. “Ba” pada kedua pergelangan kaki. (2)

19. “Tha” terletak dikedua telapak kaki. (2)

20. “Nga” terletak tepat ditengah antara dua kening.

Ke tiga puluh buah talirasa merupakan alat bagi usaha penyembuhan. Sarinya sari2 bumi dalam tubuh manusia merupakan “Makhluk” dengan getaran2 hidup yang paling sempurna sesudah Sinar Cahya Allah dan Rokhani.Kemampuan yang mendekati unsur aslinya (Sinar Cahya Allah) merupakan faktor penting dari sarinya sari2 bumi untuk dimanfaatkan dalam usaha penyembuhan. Sarinya sari2 bumi pada keadaannya , merupakan suatu dalam tubuh yang memiliki getaran-getaran hidup meskipun tidak se sempurna tubuh manusia dimana itu terjadi.

hal 6

C.2.2. Unsur Jasmaniah Abstrak.

Nafsu-nafsu, cipta, rasa dan karsa jasmaniah merupakan unsur jasmaniah yang abstrak. Dalam Simbol Pribadi Manusia, nafsu2 digambarkan sebagai lingkaran dalam warna: hitam, merah, kuning dan putih. Nafsu2 hitam, merah dan kuning adalah nafsu2 yang betul2 bersifat jasmaniah. Sedang nafsu putih meskipun timbul dari Rokhani, dengan melihat faktor pengaruh jasmaniah yang menyebabkan timbulnya nafsu itu, digolongkan sebagai nafsu jasmaniah. Nafsu2 diperbanyak macamnya dan dimiliki oleh “Saudara” dalam pribadi manusia yang ditandai dengan dua belas nama. Macam2 nafsu merupakan watak, sifat dan kelakuan daripada Saudara manusia yang dua belas macam itu. Dihitung dengan angka, saudara manusia dalam pribadinya ada 14 tempat.

Adanya dapat dibuktikan dengan rasa dan mata batin. wujud,rasa, tabiat, watak, dan sifatnuya.

Penelitian pada hal itu menunjukkan selain Rokhani sebagai salah satu saudara, saudara yang lain yang bernama Bagindakilir dapat dimanfaatkan sebagai alat dalam penyembuhan. Bagindakilir terletak pada ujung jari2 tangan kanan-kiri. Cipta, rasa dan karsa jasmaniah dapat dipandang sebagai alat dalam usaha penyembuhan. Sebab, pada waktu dilakukan penyembuhan cipta harus diam, rasa seolah-olah harus dimatikan dan karsa harus sepenuhnya tertuju pada keinginan untuk sembuh; boleh dikatakan semacam sugesti.
hal 7

C.2.3. Unsur-unsur Rokhaniah.

Rokhani manusia mempunyai Cipta, Rasa dan Karsa. Dihubungkan dengan cipta, rasa dan karsa jasmaniah : Cipta dan Karsa Rokhaniah merupakan pendukung utama bagi kesempurnaan kerja cipta dan karsa jasmaniah. tanpa Cipta dan Karsa Rokhaniah, cipta dan karsa jasmaniah tak akan dapat berfungsi.

Rasa Rokhaniah yang berfungsi sebagai unsur hidup terdapat diseluruh tubuh, memegang kemudi terhadap rasa2 jasmaniah manusia. Cipta Rokhani bertugas mengadakan hubungan dengan Hyang Maha Kuwasa. Mencapai tempat2 yang dikehendaki dengan “Gelombang pikiran” dengan tenaga/ daya penggerak berupa Karsa Rokhani. Cipta Rokhani juga bertugas menuntun cipta dan karsa jasmaniah untuk berjalan pada jalur yang benar.

Karsa Rokhani merupakan penggerak Rokhani termasuk Cipta dan Rasanya. Boleh dikatakan Karsa Rokhani merupakan cerminan dari Karsa/Kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Tentu saja karena hanya cerminan, Karsa Rokhani mempunyai kemampuan yang terbatas. Melihat pada tugas Cipta, Rasa dan Karsa Rokhani; dapatlah diyakinkan bahwa itu dapat dimanfaatkan untuk usaha penyembuhan. Keyakinan itu akan makin kuat jika dimengerti tugas sebenarnya daripada Rokhani terhadap manusia yaitu sebagai pamomong, penuntun jasmani agar jasmani bahagia, tenteram selamat dalam menjalankan segala gerak kehidupannya.

Untuk membedakan Sinar Cahya Allah dalam pribadi manusia dengan Sinar Cahya Allah yang ada diluar pribadi manusia, Sinar Cahya Allah dalam pribadi disebut sebagai unsur Rokhaniah. Karena fungsinya sebagai pendukung untuk keberadaan segala sesuatu didalam tubuh, maka unsur Rokhaniah ini jelas mempunyai kemampuan. Kemampuan Sinar Cahya Allah dalam pribadi ini dapat dimanfaatkan sebagai alat penyembuhan.
hal 8

C.3. Cara Penyembuhan.

Ada lima cara yang dapat dilakukan, yaitu dengan :

Sabda Usada, Menggarap Talirasa, Sujud, Ulah Rasa dan menggerakkan Bagindakilir (Nur Rasa).

C.3.1. Penyembuhan dengan sabda Usada.

Dilakukan untuk penyembuhan terhadap orang lain, jarak jauh atau jarak dekat. Caranya :

Didahului dengan ening dirasakan berkumpulnya getaran-getaran hidup berkumpul di-ubun2 tempat Rokhani bersemayam. Getaran-getaran hidup tersebut ditarik oleh Rokhani. Tentu saja tidak semuanya, sebab masih diperlukan dukungan untuk menggerakkan seluruh atom, sel, komponen tubuh.

Pada saat ketiga getaran hidup berkumpul, pada saat itu pula ubun2 “terbuka” dan melesatlah Cipta Rokhani dengan tenaga penggerak karsa Rokhani, menuju sumber segala keberadaan.

“Diperhatikan” batin Rokhani mengucap: Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rokhim, Allah Hyang Maha Adil.

Dirasakan Sinar Cahya Keagungan, Kerokhiman, Keadilan Tuhan masuk dalam pribadi dan meleburperpaduan ketiga getaran2 hidup menjadi “daya/kekuatan” yang untuk mudahnya dinamakan “atom berjiwa”, atom2 rokhaniah yang dapat dikendalikan oleh Rokhani.

Diperhatikan selanjutnya,batin Rokhani mengucap: Hyang Maha Kuasa nyabda si A waras (Hyang Maha Kuasa menyabda si A sembuh).

Dirasakan getaran pengaruh atom berjiwa turun kemulut.

Keluar dorongan ucapan: Waras !

Dikirimkan atom berjiwa oleh Cipta dan Karsa Rokhani kepada penderita. Untuk jarak dekat kiriman langsung ditujukan pada bagian yang sakit.
hal 9

C.3.2. penyembuhan dengan menggarap Talirasa.

Dilakukan untuk penderita sakit ingatan, atau sakit yang ada hubungannya dengan kerja sarap, sakit karena ada bagian badan yang kurang/tidak sehat. Caranya :

Ening, dibentuk atom berjiwa.

Talirasa yang berhubungan dengan badan yang sakit (pada penderita) diputar-putar (diuyek-uyek) dengan jari tengah tangan kanan sambil atom berjiwa disalurkan ketubuh sisakit melalui itu. Apabila Rokhani memandang sudah cukup, sabda waras dikeluarkan sambil getaran Sinar Cahya Allah dalam pribadi dikirimkan untuk menyempurnakan pekerjaan itu.

Usaha penyembuhan ini dilakukan oleh “pelantar” dari jenis kelamin yang sama dengan penderita. Jika tidak memungkinkan, penyembuhan dilakukan dengan Sabda Usada, atau dengan cara menggarap Talirasa dengan kesaksian keluarga penderita yang menunggui usaha penyembuhan itu.

Syarat tersebut dikenakan dan harus ditaati untuk menjaga kesusilaan, kehormatan dan mencegah timbulnya hal2 yang tidak baik.
hal 10

C.3.3. Penyembuhan dengan jalan Sujud.

Dilakukan oleh penderita yang menginginkan kesembuhan.Sujud berguna untuk : meleremkan dan mengendalikan nafsu mendudukkan Rokhani pada tugas sebenarnya, mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjaga kesehatan (sebagai manfaat sampingan). Dapat juga dipergunakan sebagai usaha penyembuhan.

Dalam sujud, getaran2 hidup ditarik rokhani dan berkumpul di-ubun2.Pada saat Rokhani kontakdengan sumber hidupnya, Sinar-sinar Cahya dalam sifatnya yang masih murni masuk dan meresap kedalam pribadi manusia. Sinar-sinar Cahya Allah itu melebur gabungan tiga unsur menjadi atom berjiwa dan menyempurnakan getaran2 hidup yang lain sehingga kerja daripada atom, sel, komponen makin dan lebih seimbang. Penggantian atom2 yang tidak fungsional dan perbaikan alat yang mengalami ganguan makin dipercepat.

Dalam melakukan sujud untuk penyembuhan; Sinar Cahya Allah dalam sifatnya yang masih murni yang masuk kedalam pribadi, atom berjiwa yang terbentuk; seluruhnya dapat ditujukan dan dikumpulkan pada bagian tubuh yqang sakit.
hal 11

C.3.4. Penyembuhan dengan Ulah Rasa.

Ulah rasa dilakukan untuk: menyelaraskan kembali getaran-getaran hidup yang belum sempurna bekerjanya, yang mana tidak bisa dicapai pada waktu menjalankan sujud. Ulah rasa yang dijalankan setelah sujud selesai dilakukan ini, pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

Telentang, lurus, tangan disamping badan, telapak tangan menghadap keatas. Semuanya serba kendor; otot, daging, sarap, pakaian,. Napas diatur seenak dan sehalus mungkin.

Mata terpejam, cipta-rasa-karsa jasmaniah diam.

Ening, ubun2 dibuka, rasakan getaran2 yang ditarik oleh Rokhani sejak ujung jario kaki sampai terkumpul diubun-ubun.

Rasakan turunnya getaran dari ubun2, rasakan getaran2 merayap keseluruh bagian tubuh, menyempurnakan getaran2 lain yang tertahan (“beku”), rasakan getaran2 membuka simpul sarap (talirasa), dan akhirnya merasalkan sampai diujung kaki kembali.

Dengan penyelarasan getaran2 hidup , kesehatan akan lebih terjamin. Lebih lanjut dapat dilakukan hal berikut. Sesudah merasakan getaran2 yang turun dari ubun2 sampai keujung jari2 kaki, dapat dirasakan keluar masuknya hawa melalui pori2 kulit, lama2 dapat terasa se-olah2 napas tidak hanya melalui hidung, tapi juga melalui seluruh permukaan badan. Terasa bahwa badan memang sebetulnya bukan barang yang betul2 padat melainkan seperti saringan. Dalam keadaan ening demikian Sinar-sinar Cahya Allah diluar tubuh lebih banyak “diisap” dan bersama-sama getaran hidup yang ada dalam tubuh “membunuh” bibit2 penyakit yang akan keluar bersama keluarnya keringat.

Dapat dirasakan pula denyutan jantung, mengalirnya darah dalam pembuluh, getaran simpul2 sarap, merayapnya getaran hidup melalui sel2 dalam tubuh, dan lain2 yang bisa dirasakan . Bagian-bagian yang dirasakan akan menjadi lebih kuat dan tahan lama. Itulah cara menjaga kesehatan dengan ulah rasa. Untuk mengusahakan kesembuhan dapat dilakukan dengan menggerakkan Nur Rasa (Bagidakilir), yaitu sesudah getaran2 hidup berkumpul di-ubun2. Nur Rasa dapat diminta untuk menyembuhkan bagian badan yang sakit.
hal 12

C.3.5. Penyembuhan dengan menggunakan Bagindakilir.

Berlainan dengan cara menggerakkan Bagindakilirdalam ulahrasa, cara ini dilakukan dalam rangkaian pesujudan. Cara penyembuhan ini jarang dilakukan. Selain kesannya kasar hingga kadang2 aneh dan menggelikan, sisakit yang bersangkutan bisa merasa malu meskipun hanya untuk sementara.  Pada keadaan2 tertentu, misalnya pada orang yang kurang puas/manteb dengan cara halus, gerak Bagindakilir dipergunakan untuk penyembuhan. 

Sesudah sujud wajib dilakukan, bungkukan badan dalam sujud ditambah satu kali. Pada kali terakhir ini Rokhani meminta pada Bagindakilir untuk bergerak mengusahakan kesembuhan. Sesudah ucapan selesai, badan kembali duduk tegak kemudian tangan diatur dalam sikap sembah. Setelah itu tangan dengan sendirinya bergerak, menjamah, mengusap, menepuk, memukul atau menggerakkan bgian2 badan yang sakit. sampai berhenti dengan sendirinya atau diminta. Untuk orang2 yang sudah “halus” Rokhaninya, gerak tersebut juga makin halus. dalam hal sisakit belum bisa menggerakkan baginda kilir, tuntunan sujud dapat minta geraknya Bagindakilir sisakit kepada Tuhan.
hal 13

C.4. Pengertian.

Penyembuhan yang dikemukakan pada pelaksanaannya menunjukkan cara2:

Penggabungan tiga unsur getaran2 hidup.

pembentukan atom berjiwa.

Pengiriman dan pemanfaatan atom berjiwa.

Menghilangkan gangguan2 terhadap kelancaran tugas getaran2 hidup.

Menyelaraskan dan menyeimbangkan tata kerja atom, sel, komponen tubuh.

Menguatkan atom2, sel2, komponen2.

Penyembuhan dengan cara itu sebenarnya merupakan pengembangan dari suatu proses yang sudah ada. Dalam tubuh, atom2 berjiwa selalu terbentuk dengan sendirinya. Berlangsung secara organis, tanpa disadari. Secara organis sarinya sari2 bumi berkumpul dengan getaran2 Sinar Cahya Allah dan getaran Rasa Rokhaniah membentuk atom berjiwa, hormon2, energi atau entah apa namanya. Dengan ening, sujud, dsb. pembentukan atom berjiwa dapat dilakukan setiap saat dengan proses yang dapat diikuti secara sadar. Penyebaran ataupun konsentrasi atom berjiwa bisa dikehendaki dan digunakan; terkendali dan terarah pada sasaran yang dimaksud.

Pembentukan atom berjiwa cara Rokhaniah dapat dikatakan ,(sebagai salah satu bagian dari kemungkinan yang timbul),merupakan proses pembuatan obat didalam tubuh manusia. tak berbeda dengan obat yang dikenal dalam bidang medik yang mana juga mengandung unsur Sinar Cahya allah didalamnya, setelah masuk kedalam tubuh akan bertemu dengan Sinar Cahya Allah dan getaran2 hidup yang lain kemudian diubah sebagai atom2 yang mampu menghilangkan sakit.

Dua hal diatas memberikan pengertian bahwa: Penyembuah dengan menggunakan dua cara (medik dan medik Rokhaniah, tak dapat diragukan merupakan cara penyembuah yang sangat efektip. Pengetahuan medik memberikan obat dengan khasiat tertentu atau khusus yang efektip sebagai alat penyembuh. Pengertian non medik (Rokhaniah) memberikan cara membuat atom berjiwa sebagai obat; cara yang langsung berguna untuk menyempurnakan kemampuan obat medik. Selanjutnya efektifitas daripada gabungan dua macam obat ini dilakukan dengan menyalurkannya secara penuh pada bagian tubuh yang membutuhkan. Penyembuhan non medik sebagaimana diungkapkan selalu :

Dilakukan dalam keadaan ening.

Rokhani memegang peranan utama.

Disebut dan dimintakan Kekuasaan Tuhan.

Disempurnakan gabungan tiga unsur getaran2 hidupmnjadi atom berjiwa oleh Sinar Cahya Allah dalam sifatnya yang masih murni. 

Tersebut diatas memberikan pengertian bahwa, dalam usah penyembuhan non medik macam itu :

Manusia tidak mempunyai peran apa2 selain sebagai alat.

Semua tergantung pada Ulah Rokhani dan Kehendak Tuhan.

Dengan demikian tak layaklah jika mausia menyombongkan diri sebagai yang berkemampuan melakukan penyembuhan. Kemampuannya hanyalah sebagai pemegang peran “pelantar/perantara” saja. Ketergantungan manusia terhadap Rokhaninya dan Tuhan merupakan suatu tanda bahwa kemampuan manusia terbatas adanya.

Lebih-lebih jika dimengerti bahwa Rokhani sendiri sebenarnya dalam mengembangkan kemampuannya tergantung keadaan dalam pribadi manusia sendiri. Mampukah manusia dalam menggunakan cipta rasa dan karsanya tidak dibawah pengaruh nafsu2; bagaimanakah keadaan Rokhani sejak sebelum lahir dan sesudah menjalankan kehidupan didunia nyata. Keadaan Rokhani sejak sebelum lahir, selama kehidupan jasmaniah berlangsing, sifat/watak dasar, perkembangan cipta rasa, karsa manusia mempunyai pengaruh kuat pada kemampuan Rokhani.

Digunakannya nama dan kekuasaan Tuhan membuat lebih tak pantas jika manusia menggunakan “kemampuan” yang ada dalam dirinya sebagai pelantar kesembuhan untuk tujuan mencari keuntungan atau uang. Dalam hal ini wajiblah syaratnya, jika pertolongan yang diberikan adalah tanpa pamrih apapun kecuali untukl kesembuhan dan kebahagiaan orang lain, dan dilakukan denga pengertian serta kesadaran bahwa tersebut hanyalah sekedar melaksanakan KeRokhiman Allah.

Komersialisasi Nama dan Kuasa Tuhan jelas merupakan suatu hal yang tak bisa dibenarkan. Hukum Tuhan mungkin akan menimpa terhadap pelanggaran ketentuan ini. Ketergantungan manusia pada Rokhani dan Tuhan memberikan pengertian bahwa : Kemampuan sembuh pada seseorang sakit pada hakekatnya terletak/tergantung pada sisakit sendiri dalam hubungannya dengan Tuhan.

Artinya sembuh dan tidaknya tergantung atas Kehendak?Kuasa Tuhan. Oleh karenanya sudah wajarlah jika manusia sewajibnyalah selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan baik selama sehat, lebih2 dalam keadaan sakit.
hal 14

D. Penutup

Naskah ini bukan bermaksud mengemukakan suatu hipotesa bukan pula mengajukan semacam tese. Karenanya tidaklah didapati adanya “argumentasi” ataupun bukti2 yang mendukung komentar yang dikemukakan. Mungkin juga inti dari isi naskah lepas dari maksud diadakannya seminar yaitu tidak diberikannya suatu yang mantab yang merupakan suatu kesimpulan, karena memang tidak dikemukakan suatu analisa yang menuju kepada kesimpulan itu.

Apa yang diajukan adalah hasil penelitian pribadi yang sifatnya umum, artinya bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, umum lebih2 kedudukan. Hasil yang sulit diungkapkan menurut disiplin ilmiah yang benar. Bahkan ungkapan mengenai “apa dan bagimana adanya” mungkin tidak logis, irasionil menurut pertimbangan akal dan pikir.

Namun hal itu bukan merupakan suatu sebab bagi ketidakmungkinan dibukanya ruang diskusi/sararehan meskipun sebenarnya sulit untuk dilakukan. Sebab sebagaimana dimaksudkan bahwa semuanya merupakan pengalaman pribadi dalam arti “pengalaman batin” yang diperoleh dengan pengolahan/penggulowentahan Rasa dan Rokhani. Suatu yang abstrak yang sulit untuk diceriterakan dengan kata2, ataupun diperagakan dengan alat2 bukan abstrak. Lagipula suatu forum diskusi jelas membutuhkan media komunikasi berupa “bahasa” yang sama. ketidak samaan “bahasa” dalam diskusi dapat membuat jalan bersimpang tanpa menghasilkan kesimpulan ataupun sesuatu yang bermanfaat.

Akhir kata, kepada Panitia Seminar dan juga kepada IDI (Ikatan Dokter Indonesia), atas nama seluruh Warga Kerokhanian Sapta Darma kami menyampaikan terima kasih kami, atas pemberian waktu dan kesempatan untuk menyampaikan isi dan inti daripada naskah ini, yang merupakan dasar pengertian daripada Ajaran Penyembuah menurut Kerokhanian Sapta Darma. Semoga Seminar ini bermanfaat bagi kemanusiaan, dengan perkenan Allah Hyang Maha Agung, Maha Rokhim dan Maha Adil.

Terima kasih.
Yogyakarta, 3 Maret 1979

      ttd

          (Sri Pawenang)

ASMA 3, Merasakan Balung, Daging & Kulit

24 Maret 2015 1 komentar

a7
“Allah Yang Maha Agung dirasakan di balung/tulang, Allah Yang Maha Rokhim dirasakan di daging, Allah Yang Maha Adil dirasakan di kulit” (wejangan dr sesepuh surakarta, Mbah Sosro alm). Pengolahan rohani merasakan sinar cahaya Allah (Asma 3) yang masuk dalam tubuh manusia yaitu pada tulang, daging dan kulit.

Tulang, adalah bagian tubuh yang paling keras tetapi didalamnya tulang terdapat benda yang sangat lunak yaitu otak dan sumsum, dimana kedua benda tersebut sangat rawan dan bermasalh sekali apabila bocor atau robek, Otak merupakan pusat sensorik yang menggerakan semua organ tubuh. Didalam pengolahan rohani otak adalah tempat berkumpulnya getaran yg mengalir dari ujung jari kaki. Saat geratan berkumpul kemudian bunbunan bisa terbuka, otomatis Sinar CaHaya Allah dari luar tubuh akan terhisap masuk kedalam otak.

Daging yang dimaksud disini berada diluarnya tulang sebelum kulit meliputi organ tubuh spt jantung hati ginjal paru2 dan lain-lain. Daging didalamnya ada organ Hati adalah simbol keokhiman/kasih sayang berbeda dengan otak yang berarti simbol kejeniusan, kepintaran ataupun kebijaksanaan.

Kulit berada dipaling luar dalam tubuh yang menghubungkan masuknya sinar cahaya Allah dengan daging dan kulit, Kita menghirup udara, mendengar suara, dll, kulitlah sebagai peranan yang aktif. Saat pengolahan rohani semua didiamkan/ diselehke maka keadilan akan bertindak, kalau rasa peka akan tahu mana yang sakit, mana yang kurang waras utamanya pada panca indra kita spt mata telinga hidung dll.

Asma 3, merasakan di tulang, daging & kulit lalu bagaimana dengan Asma 5 yaitu di Maha Wasesa dan Maha Langgeng? Menurut wejangan para sesepuh juga: “Maha Wasesa dirasakan diluar tubuh kira2 hingga radius 10 meter, sedangkan Maha Langgeng radius +10meter dan seterusnya dan semampunya. Maka dari itulah dalam peruwatan mengunakan Asma 5 karena pengolahan merasakan jagad agung diluar tubuh.

Sekiranya apa maksud dari wejangan diatas adalah agar para warga dalam merasakan masuknya sinar cahaya Allah (Asma 3) supaya dapat merata menembus semua atom, sel, komponen, organ didalam tubuh hingga seluruh tubuh terselimuti sinar cahaya Allah dan Otomatis Waras. Demikian, Salam Waras

Kategori:Serba-serbi

ELING LAN WASPADA

a6
Apakah anda seorang PELUPA? sering lupa atau sengaja melupakan sesuatu yang menyakiti hati? (contohnya putus cinta, dicampakan pacar, cinta segitiga, diselingkuhi, dll). Ataukah anda sering lupa menaruh barang-barang yg kecil, seperti kunci, kaca mata, dompet bahkan uang sekalipun? ataukah anda susah mengingat kejadian 1 jam lalu, 2 jam lalu, 5 jam lalu atau 1 hari, 2 hari lalu dan seterusnya, pokoknya yang lalu? kalau anda tergolong seorang pelupa , mungkin anda cocok untuk membaca artikel yang singkat ini.

Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi
melu edan ora tahan
yen tan melu anglakoni boya kaduman melik
kaliren wekasanipun
Dillalah karsaning Allah
Sakbeja-bejane wong kang lali
luwih beja kang eling lan waspada.
(Sinom, serat kalatida, Ronggo Warsito)

Pelupa bahasa jawanya LALEN, memang sih orang yang lupa itu bejo, tp pujangga terkenal Ronggo Warsito mengingatkan “sak bejo-bejone wong kang lali luwih bejo kang eling lan waspada”. saat sang pujangga menuliskan itu, saat itu jamannya lagi edan, mungkin dikatakan jaman edan karena saat itu banyak orang yang edan, dan kenapa orang bisa menjadi edan karena banyak orang yang lupa/pelupa/lali. Pertanyaannya, Apakah sekarang ini jamannya masih jaman EDAN? agak EDAN atau lebih EDAN? dijawab dalam batin masing-masing kemawon ya.

Lupa itu bisa dikatakan penyakit, namanya penyakit lupa, dan mengapa seseorang bisa menjadi pelupa? kalau saudara googling penyebab lupa antara lain: Kadar gula darah tinggi, sering mengalami depresi, kecapekan/ metabolisme menurun atau kecapekan, kurang tidur, penuaan lanjut, terlalu banyak kosumsi narkoba, obat-obatan, nikotin, alkohol, dll.

Orang yang pelupa juga dikarenakan ada sesuatu hal besar yang menjadi beban dalam pikirannya. Terkadang bisa menjadikan seseorang tidak waspada dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Maksudnya tidak waspada yaitu tidak kosentrasi dalam melakukan sesuatu, suatu contoh kita jalan kaki bisa kesandung, bersepeda bisa jatuh sendiri, dll. Memang besar akibatnya bagi sipelupa sendiri dan juga orang yang disekitarnya, maka dari itu mari kita mencoba membedah solusi atau mengasi tips bagi pelupaisme supaya dapat kembali eling dan waspada.

SOLUSINYA, bagi warga sapta darma penyakit lupa itu mudah disembuhkan caranya yaitu “perbanyak mengolah rohani”. Wejangan Sri Gutomo: “Galilah rasa yang menyeliimuti tubuhmu (kepribadianmu yang asli)”, semakin banyak mengali rasa maka semakin banyak pula mengerti tentang apa saja yang ada tubuh ini. Putaran rasa/getaran dalam otak dalam kekanan keatas dibarengi dengan luar kekiri kebawah atau sebaliknya apabila diikuti dengan cermat akan mengembalikan memorial/ingatan apa saja yang pernah dilakukan dan itu sangat urut hingga apabila bisa tersambung terus-menerus memorial/ingatan leluhur kita yang sudah tiadapun bisa muncul. Semakin ditarik kebelakang lagi akan semakin tahu asal muasal hidup kita dan leluhur kita bahkan asal muasal alam semesta. Mungkin apabila mampu, ingatan sejarah tersebut kemudian ditarik kedepan untuk mengetahui masa depan. Dan panjang pendeknya melihat masa depan tergantung lebar jangka dalam melihat sejarah.

Penutup, di akhir kejayaannya tahun 1964-65, bapak proklamasi kita selalu mendengungkan JASMERAH (jangan lupakan sejarah) maka dari itu mungkin tulisan ini dapat menjadi motivasi rekan-rekan remaja supaya menjadi generasi yang tidak pelupa dan menjadi generasi yang selalu ELING lan WASPADA sehingga masa depan Bangsa Indonesia akan menjadi contoh bangsa-bangsa di dunia (mercusuar dunia). Demikian, Salam waras

Kategori:Serba-serbi

PENGALAMAN SUJUD RUTIN & PERUBAHANNYA

a5
Pernahkah saudara sekalian mencatat pengalaman sujud rutin anda dan juga perubahannya dalam kehidupan keseharian anda? Kita mengetahui gunanya sujud dan air suci, bagaimana prosesnya air suci dapat menberantas kuman–kuman penyakit dalam tubuh, Dapat menentramkan/menindas nafsu angkara, Dapat mencerdaskan pikiran, Dapat memiliki kawaskitan, seperti kawaskitan akan penglihatan, pendengaran, penciuman, tutur kata atau percakapan serta kewaskitaan rasa.

Dilihat gunanya air suci, para warga pastinya selalu dapat hidup waras/sehat setiap harinya, tapi kalau kita menyadari banyak kasus para warga yang sudah puluhan tahun menjadi warga sapta darma kalau sakit perlu ke dokter dan juga lebih-lebih menginap kerumah sakit, bukankah itu hal yang paradoks/kontras, Bukankah para warga bisa mengobatinya sendiri?? Apa yang salah dari kasus ini? Apakah sujudnya yang keliru atau sujudnya kurang rutin?

Sujud memang hal yang mudah, Cuma duduk diam bersila dan sedakep, merasakan keluar masuknya nafas, hanya itu saja sampai tenang dan damai. Hal2 yang terkait dengan prosesnya bisa kita amati sendiri saat sujud tersebut. Mudah bukan??? Dimana yang sulit???TIDAK ADA YANG SULIT, cuma ada yang tidak mudah yaitu kerutinan. Kerutinan yang dimaksud adalah seperti: 5 jam dalam sehari mengolah rohani, satu hari sekali sujud dengan sungguh-sungguh. Begitu saja.

Setelah bisa melaksanakan sujud rutin dalam beberapa hari kemudian beberapa bulan bahkan bertahun-tahun betapa hebatnya warga tersebut, apalagi setiap yang didapat dan perubahan dalam hidupnya selalu dicacat dan di dokumentasikan. Jika setiap warga mempunyai arsip pengalaman sujud rutinnya tersebut maka mungkin saja regenerasi akan lebih berjalan baik.

Dibawah ini sebagai gambaran umum tentang hipotesis 6 bulan melaksanakan sujud rutin dan perubahannya:

Bulan pertama
Dapat membrantas kuman–kuman penyakit dalam tubuh, tidur lebih nyenyak bangun tidur segar, lebih kuat, tenaga cepat pulih. dll

Bulan kedua
Lebih cepat dalam menentramkan/menindas nafsu angkara, tampa emosi tidak mudah marah, lebih banyak ngalah (Ngadep Allah), dapat membedakan rasa pangrasa, perlu dan tidak perlu serta dapat mengendalikan emosi, kalau diet lemak akan berkurang, pencernakan lebih baik, peredaran darah lancar hingga produksi sperma-sel telur akan sangat berkualitas. dll

Bulan ketiga
Dapat mencerdaskan pikiran, lebih fokus-kemampuan kosentrasi lebih baik serta lebih selalu semeleh, regenerasi sel dalam tubuh lebih baik hingga kelihatan lebih muda/menunda proses penuaan, bagi laki-laki-perempuan sudah lanjut usia mungkin bisa menjadi tidak menopouse lagi (kembali haid). dll

Bulan keempat
Dapat memiliki kawaskitan, seperti kawaskitan akan penglihatan, pendengaran, penciuman, tutur kata atau percakapan serta kewaskitaan rasa. Bisa membedakan cahya-rasa dan pengrasa, dapat tigas jangga kedua atau bawah (puser), secara rohani mulai dapat memahami alam sekitar. Mendeteksi penyakit dan juga perubahan alam. dll

Bulan kelima
Dapat menolong orang yang menderita sakit, dapat menguasai atom berjiwa untuk alam sekitar atau mendarmakannya. Dapat mengontrol getaran-getaran tubuh hingga disempurnakan lalu digunakan. Memahami tingkatan alam kasar maupun lembut hingga penghuni dan mengatasinya. dll

Bulan keenam
Dapat melaksanakan sesanti maupun wewarah tujuh secara iklas dan otomatis, suasana baik sudah menyelimuti tubuh sehingga kalis semua mara bahaya. dll

Diharapkan hal diatas dapat menjadi motivasi para warga untuk lebih tekun sujudnya dalam setiap harinya, dari hipotesis diatas hanya selama 6 bulan manusia sudah mencapai tingkat yang luar biasa, bagaimana kalau sekolah sapta rengga tingkat SMU sudah ada, pastinya generasi warga sapta darma akan lebih baik karena sujud rutin/tekunnya selama 3 tahun. Mungkin dari saudara sekalian ada hipotesis yang lain dapat di share/diskusikan disini, Demikian. Salam Waras.

Kategori:Serba-serbi

PENELITIAN ROHANI: WATAK Hari & Weton Kelahiran Manusia

a4Waktu acara permbukaan Remaja KSD Sragen Anjang sana/NGANGSU KAWRUH di Lamongan pada tahun 2013 yang lalu, Suatu kehormatan bagi kami karena telah disambut oleh sesepuh dan tuntunan dari Surabaya. Kemudian kami pernah mencacat beberapa wejangan sesepuh Surabaya yang diberikan kepada kami yaitu tentang watak hari dan weton kelahiran manusia yang didapat dari menelitian rohaninya. Kami tidak bertanya secara detail tentang bagaimana penelitiannya tetapi pada dasarnya pengolahan pada tingkat perbintangan. Harapan kami, dengan wejangan ini para remaja atau warga dapat mengetahui watak dino dan weton kelahiran dan juga termotivasi untuk menelitian di tingkat perbintangan, adapun wejangannya sebagai berikut:

Sapta pitu pekenan gangsal, jumlah hari tujuh-jumlah weton lima, tujuh hari berhubungan dengan watak tujuh sapta rengga dan weton lima berhubungan dengan watak lima perkara

Senin: Mripat kanan (Keinginannya berpakaian yang sae-sae)
Seloso: mripat kiri (Pakaianne biasa2 ae)
Rabu: telinga kanan (Wonge seneng pitutur sae-sae)
Kamis: telinga kiri (Kalau ada wong gegeren seneng)
Jumat: wonten bolongan irung kanan (Goleki apeke wong)
Sabtu: irung kiri (Goleki eleke wong)
Minggu: tutuk (Dikei opo-opo manut)

Pon: (Putih) Kekarepan resik
Wage: Ngomonge seng gedi2 (Ireng)
Kliwon: Pribadi (Golek pentinge dewe) (Abang)
Legi: Senengane seng apek (Ijo)
Paing: Keinginan kuat (Kuning)

Demikian, Salam waras

Kategori:Serba-serbi

CARA NGECEK BENDA BERTUAH & Pengaruhnya

a3

Bagi warga sapta darma sangatlah mudah untuk mengecek benda bertuah seperti AKIK, batu, keris, cundrik, semar mesem, dll. Dan ada pula yang menganggap bahwa emas, hp, ponsel, komputer, notbook, tablet, duet dll, adalah benda bertuah. OK, itu tidak jadi soal karena semua benda bisa di cek guna mengetahui pengaruhnya bagi rohani kita. G usah bertele-lete GAN, gimana caranya????…..

Contoh benda bertuahnya yang lagi BOOMing yaitu Cincin AKIK, cara ngeceknya mudah, cara ini sudah dibuktikan oleh penulis: Caranya: Pakai cincin akik di jarimu kemudian sujudlah atau patrap wening minimal selama satu setengah jam. Mengapa minimal satu setengah jam karena satu setengah jam dirasa cukup untuk mencapai tingkat keweningan yang diinginkan. Disaat proses sujud/wening setelah mencapai kehalusan rasa tertentu pasti ada getaran dari cincin akik tersebut yang membuat jari atau tangan kita bergetar dengan sendirinya hingga berpengaruh atau menjadi penghambat jalannya rasa di tubuh (semakin besar getaran yang ditimbulkan semakin besar pula pengaruhnya). Tidak hanya Cincin akik, cincin emaspun juga demikian, mengantongi uangpun membuat panas kalau saat sujud benar-benar.

Demikian cara…. dari kami, apabila ada cara lain atau persoalan terkait tentang ini, mungkin bisa kita diskusikan disini. WARAS

 

Kategori:Serba-serbi

BANJIR MELANDA JAKARTA Bagaimana Di mata Warga Sapta Darma???….

a2

Banjir yang melanda jakarta tiap tahunnya terdengar tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Berbagai macam solusi sudah diterapkan tetapi akhirnya banjir tetap datang tiap tahunnya, andai saja kalau tidak terjadi hujan pasti tidak akan terjadi banjir, apalagi kalau ada alat/manusia yang dapat mengendalikan iklim pastinya juga tidak akan terjadi banjir, bukankah begitu saudara?.

Penyebab utamanya banjir di jakarta hanya karena ada intesitas hujan yang tinggi yang mengguyur di daerah jakarta disekitarnya. Sungai-sungai selalu di perlebar/diperdalam, sosialisasi buang sampah pada tempatnya selalu digalakan, tapi hal itu tidak bisa mengatasi luapan air yang banyak. Air hujan yang turun tidak bisa diperkirakan berapa besar debit dan lamanya hujan hingga akhirnya solusi penanggulan banjir yang sudah diterapkan tidak mampu mengatasi.

Terjadinya banjir di pusat ibukota Indonesia banyak mengakibatkan dampak negatif disegala bidang. Khususnya dibidang kesehatan, penulis teringat akan pelajaran olahraga SD kelas 6 dulu, dibuku LKS di halaman pertama tertulis “Mensana in corporesano” yang artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Bagaimana jika jakarta selalu terjadi banjir?apakah tubuh-tubuh di jakarta bisa menjadi sehat? padahal di jakarta banyak tubuh-tubuh pejabat pemerintahan Indonesia. PRIHATIN MEMANG.

Solusi Banjir Jakarta Di Mata Warga Sapta Darma???

Dalam buku sejarah ada bab yang menerangkan Permohonan Terang dalam rangka orang kerja yang isinya sebagai berikut: “Sesudah sujud wajib ditambahkan satu bungkukan dengan ucapan dalam batin: “HYANG MAHA SUCI MOHON HYANG MAHA KUASA, AGAR WAKTU KERJANYA DIBERI TERANG”, Kemudian pemilik kerja keluar rumah menuju tengah halaman menghadap ketimur HENING. Dengan mengacungkan jari telunjuk keatas dengan disabda: SABDANE HYANG WIDI TERANG”.

Kagem SEDULUR SEDOYONIPUN, Bagaimana kalau cara diatas digunakan untuk mengatasi banjir???? atau adakah cara lain secara sapta darma untuk mengatasi banjir di jakarta????

Mohon pencerahannya.

SALAM WARAS

Kategori:Serba-serbi