Beranda > jamu dan pengobatan > PENYEMBUHAN ORANG SAKIT SERTA CARA–CARANYA

PENYEMBUHAN ORANG SAKIT SERTA CARA–CARANYA

GambarPenyembuhan yang dilakukan oleh Warga Sapta Darma adalah penyembuhan di jalan Tuhan. Artinya melakukan penyambuhan itu dilaksanakan atas kuasa dan sesuai dengan petunjuk–petunjuk dari Hyang Maha Kuasa. Bagi Warga Sapta Darma diwajibkan pula menolong mengobati pada umat sekalian yang sedang sakit apabila diperlukan.

Pertolongan dalam hal ini dilarang sama sekali untuk mengharapkan balas jasa, baik berupa apapun saja selain berdasarkan atas cinta kasih atau belas kasihan. Jadi melulu menjalankan sikap Kerokhanian Allah.

Murka/hukum Tuhan menimpa mereka yang melanggar tersebut. Sebaliknya, Tuhan selalu mamberi karunia dan kekuatan pada mereka yang setia sepenuh hati menjalankan perintah–perintah dan petunjuk–petunjuk–Nya. Karunia Allah datang dalam segala waktu dan berasal dari segala tempat, yang berarti tak dapat diduga sebelumnya.

Cara mengobati (penyembuhan) di jalan Tuhan dilakukan dengan :

1. Ening sambil memandang bagian badan si pasien (si penderita) yang sakit, setelah merasa bahwa seluruh rasa terkumpul di dalam mulut, dengan tanda lidah seperti terbelai angin (Jawa: pating trecep) dan ujung lidah terasa berat, maka dalam batin menyabut Nama Allah (Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rokhim, Allah Hyang Maha Adil), kemudian menyabda : Sembuh (Waras). Selanjutnya si pasien/si sakit disuruh merasakan keadaan badannya.

2. Bagi mereka yang sakitnya telah menahun (bertahun–tahun), atau 
sakit bagian dalamnya seperti antara lain: paru–paru, asma, ayan, lepra, nier (ginjal), tekanan darah tinggi, seyogyanya mereka itu dituntuni sujud yang sungguh–sungguh (emat). Setelah melakukan sujud, lalu didalam batin supaya mengucapkan: “Minta geraknya Nur Rasa”, kemudian disuruh ening, rasa ditujukan pada tangan. Bila tangannya telah bergerak (bergetar) : lalu diminta mengucapkan “Mohon diobati hingga sembuh” gerak tangan itu diikuti kemana arahnya guna mengobati sakitnya, hingga badan menjadi ringan/enak.

Manakala penyakit telah sembuh, bagi yang habis sakit boleh meneruskan sujudnya, boleh tidak. Artinya diteruskan sujudnya ya baik, tidak pun tidak apa–apa. Soalnya untung rugi pada masing–masing pribadi yang merasakan. Jadi Warga Sapta Darma tak boleh memaksa pada siapapun saja dalam hal sujud maupun untuk menjadi Warga Sapta Darma.

3. apabila Warga Sapta Darma sendiri yang sakit, maka cara mengobati seperti yang dijelaskan pada sub 2 tersebut di atas yaitu sujud yang emat (sungguh–sungguh) lalu minta geraknya Nur Rasa untuk mengobati sakitnya sendiri hingga sembuh. (Ini adalah mengingat wewarah nomor 5, berani hidup berdasarkan kepercayaan atas kekuatan diri sendiri).

Jadi warga Sapta Darma harus dapat/sanggup mengobati dirinya sendiri tak boleh minta tolong pada warga yang lain. Hanya dalam keadaan yang istimewa, dimana ia tak dapat/sanggup lagi melakukan pengobatan sendiri dalam arti tak dapat melakukan seperti yang diterangkan pada sub 2 di atas seperti misalnya: dalam keadaan lumpuh, maka diperkenankan Warga Sapta Darma yang lain melakukan pertolongan untuk mengobatinya.

4. Bagi orang yang telah parah sekali, hingga ada rasa bahwa si sakit tidak dapat sembuh,maka Warga Sapta Darma harus dapat menggunakan atau kewaskitaan. Yaitu supaya dieningkan dengan matm terpejam, bagimana kias (isyarat) atau tanda–tanda si sakit. Artinya bila ada gegambaran atau tanda–tanda seperti : burung yang kekablak (menggerak–gerakan sayapnya) atau burung terbang, pohon kering/menjadi kering, orang yang duduk membelakangi, atau tercium bau jenazah berarti bahwa telah sampai waktunya bagi si sakit, atau sudah sampai pada garis yang ditentukan oleh Hyang Maha Kuasa. Dalam hal ini meskipun disabda sembuh (waras), penyakit menjadi sembuh namun umur telah sampai pada janji untuk diambil kembali oleh Hyang Maha Kuasa. Jadi ajal tak dapat dielakkan lagi.

Apabila pada waktu ening kita lihat tanda–tanda/gegambaran seperti : pohon beringin, bunga mawar yang kembang (mekar) ini adalah petunjuk bahwa : si sakit akan sembuh.

5. Bagi mereka yang sakit lumpuh, atau badannya mati sebelah cara mengobatinya seperti yang diterangkan pada sub 1 diatas, dan simpul–simpul tali rasa pada bagian tubuh yang sakit di uyeg (di guyar–guyar) dengan jari tengah tangan kanan. Kemudian disuruh menggerakkan tangan dan kakinya, dan akhirnya, disabda “senbuh” (waras)!!!.

6. Untuk orang gila, sakit syaraf: cara mengobatinya ialah bagian otak kecilnya (kepala bagian kepala agak bawah) di uyeg dengan jari tengah dengan tangan kanan sambil ening. Satria Utama (tempatnya diantara 2 kening) di tampar (di tempeleng) perlahan –lahan dengan telapak tangan kanan 3 kali lalu di sabda “sembuh” (waras)!!!.

(Kutipan buku wewarah)

  1. Arek ganteng
    29 Oktober 2013 pukul 19:30

    Mantap… Iyo rek. Tak pangestoni.

  2. Irul
    1 Maret 2014 pukul 01:27

    Perkenalkan saya dari daerah pelosok Madiun , mengucapkan bangga dengan Anda2 sekalian yg telah mendharmakan ajaran2 mulia Bopo Sri Gutama dg tulus & tanpa pamrih , Mudah2’an kita semua tetap dalam pengayoman Hyang Maha Kuasa , Rahayu , Rahayu , Rahayu __/\_

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: