Beranda > Serba-serbi > PASANGAN YANG RUKUN Seperti mimi & mintuna

PASANGAN YANG RUKUN Seperti mimi & mintuna

a1
Cuplikan wejangan Bopo Sri Gutomo dalam buku dasa warsa:
“Bapak2, Ibu2 Yth. Dalam kehidupan rumah tangga, kami pesankan senantiasa dalam kedamaian. Jangan mudah bertengkar. Jadilah pasangan yang rukun.Seperti mimi & mintuna. Dalam mencarikan pasangan hidup putera-puterinya atau dirinya (bagi sekarang yang belum berpasangan) ajarlah mengadakan penelitian yang sempurna, supaya kelak tidak pecah/bercerai. Perjodohan yang sejati seperti mimi & mintuna berarti : menimbulkan ketenteraman; penghematan/ biji manusia, dan pemeliharaan. Ini mengakibatkan lahirnya keturunan yang baik.”

Mimi & Mintuna adalah sepasang ikan kecil yang sukanya hidup di air yang bening dan selalu bersama dalam menjalani kehidupannya. Menurut cerita jawa (ada tembangnya), ikan tersebut tidak akan berpisah/bercerai dan tidak mencari pasangan lain, bila salah satu ada yang matipun yang satunya juga akan ikut mati. Kita bisa bayangkan betapa rukun dan setianya ikan tersebut, satu untuk seumur hidup.

Pertengkaran dalam hidup yang paling banyak itu menurut penulis adalah pertengaran suami istri mengapa demikian? karena dalam menjalani hidup sehari-hari selalu bersama. Apalagi kehidupan setelah menikah dan punya anak, hal-hal kecil pun dapat menicu pertengkaran. Dilihat sekarang ini banyak kasus-kasus perceraian di kalangan masyarakat indonesia baik itu dikalangan artis, pejabat maupun kalayak umum. Perceraian dianggap sudah hal yang biasa yang lumrah yang dijalani masyarakat indonesia.

Bagaimana dengan warga sapta darma?…
Bopo Sri Gutomo memberikan konsep mimi & Mintuna, teknik-2 menjaga ketentraman (mengatasi suami atau istri supaya tidak serong), mencocokan rasa dan pangrasa adam-kawa, membuat anak laki-laki, perempuan dan bahkan Penghematan biji manusia untuk pasangan suami-istri warga sapta darma. Konsep tersebut sudah sangat cukup untuk digunakan dalam menjaga kebahagian rumah tangga, apalagi dalam pernikahan secara sapta darma di ikrarkan kedua mempelai untuk tidak ada kata perceraian, sebelum menikahpun diharuskan sujud tekun dahulu minimal 12 hari. Pengalaman penulis dalam teteki 12 hari sebelum nikah banyak pelajaran rohani maupun jasmani yang didapat untuk menjalani dan memelihara kehidupan berumah tangga kedepannya.

Bagi remaja yang belum menikah, konsep penghematan biji manusia ini perlu diperhatikan dengan sangat. karena dengan majunya teknologi dan pengaruh lingkungan modern saat ini banyak menyajikan hal-hal yang membuat manusia tidak bisa hemat untuk menjaga biji manusianya, Jadi BerHATI-HATILAH. Rayuan gombal laki-laki banyak beredar, ikan asin wanita juga banyak yang gurih dan itu membuat IMRON tidak bisa menjaga biji manusia sehingga memacu untuk dihambur-hamburkan. Tetapi bagi remaja yang sudah terlanjur (ya ga papa resiko ditanggung penumpang), mungkin dengan tulisan ini bisa mengingatkan supaya bisa menghemat biji manusia.

Menghemat biji manusia itu caranya mudah, Bagaimana caranya, seperti wejangan bopo Sri Gutomo: “Tingkah laku hidup manusia dikemudikan oleh getaran2 yang ada dikepala”. keinginan adalah awal dari segalanya, keinginan itu adalah getaran dari hawa yang ada di kepala. ketika ada keinginan MESUM, berarti banyaknya getaran yang berasal dari hewan yang memenuhi kepala. Maka dari itu pesan Bopo Sri Gutomo; “galilah,
telitilah selalu getaran2 yang menguasai dirimu, agar segala tingkah lakumu selalu didorong oleh getaran2 yang sempurna”.

Dalam ilmu tertentu meyakini bahwa sering mengeluarkan biji manusia/sperma itu menyehatkan dan ada juga yang menganggap itu kotoran. kalau menurut Ajaran Sapta Darma dalam buku dasawarsa: “Sujud yang sempurna dalam Sapta Darma bergandengan erat dengan biji dan asal mula manusia.Sujud Sapta Darma berarti pula sujud tentang asal mula manusia. Apakah asal mula manusia itu ? Ialah dari getaran tumbuh-tumbuhan dan getaran dari binatang yang kita makan, dan akhirnya berwujud air putih (air suci); dengan sinar cahaya (tri-tunggal).
Maka mulai sekarang kurangilah makan dan tidur. Tapi kata2 ini,
jangan diterima wantah begitu saja Saudara (jangan diterima letterlijk).
Disini dapat saya umpamakan. Bila orang habis mencangkul sawah, ia akan mengalami rasa capai. Akan tetapi capai dalam mencangkul tanah akan memberi kesehatan badan kita, karena kita mendapatkan sinar matahari dan sari2 getaran tanah.Sebaliknya bila Bapak2 bersetubuh, walaupun hanya sebentar, badan kita akan capai dan lemas, lembek.
Karena apa ? Biji manusia dikuras dari badan. Sedang itu sebetulnya membikin kesehatan. Maka hematlah dengan penebaran biji manusia”.

SALAM WARAS

 

Kategori:Serba-serbi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: