Beranda > Catatan kegiatan > KEROKHANIAWAN DAN KIAT-KIAT KEDISIPLINANNYA

KEROKHANIAWAN DAN KIAT-KIAT KEDISIPLINANNYA

simbol-pribadi-2.jpgOleh: Remaja KSD Sragen

Harjosapura, adalah seorang PERTAPA profesional yang didedikasikan oleh penjalanan rohani dirinya dan pengikutnya dengan sebutan Sri Gutomo (pelopor budi luhur). Dengan pengalaman bertapa selama 12 tahun, bersamaan dengan itu Harjosapuro telah dapat membuat sebuah sistem kerohanian dimana sebagai salah satu solusi yang dapat  mengembalikan mental Bangsa Indonesia yang terpuruk karena selalu terjajah maupun selalu perang saudara.

Tentu sebagai Sri Gutomo saat itu telah merasa lega karena berhasil mencapai kebebasan berkehidupan yang diidam-idamkan semua pertapa yang mengikutinya, Dan Sebagai orang no.1 di Sapta Darma, beliau tahu segalanya, tahu segala hal,  karena hanya tinggal racut selesai semua permasalahan. Bukankah begitu??? (tidak perlu dijawab). Sebagai seorang PERTAPA sampai bisa ketingkat Sri Gutomo pastinya tidaklah mudah, dari mengalami jatuh bangun, habis modal-daya, hingga dipaksa maju maupun berhenti menjadi pertapa pastinya sudah menjadi bumbu disetiap makanannya. Belum lagi ada benturan/ejekan disana-disini dari orang-orang terdekat maupun dari pihak yang kurang tahu akan tugas-tugasnya. Dibutuhkan “mental baja, otot kawat balung besi” dalam perjalannya hingga sampai mewariskan konsepsi-konsepsi pola hidup disiplin yang tertulis dalam buku dasawarsa, salah satu konsepsinya seperti “Warga maupun tuntunan di tuntut meluangkan waktu untuk kebutuhan rohani 5 jam sehari”, ITU SUDAH CUKUP.

Penulis sempat juga membaca kisah perjalanan Bopo di buku sejarah, perjalanannya sangat luar biasa, dari mulai mendapatkan wahyu sampai wafatnya diceritakan disitu. Tp penulis sempat tercengang, Apakah ini benar atau tidak?”ANGGAP SAJA ANGIN LALU”, di buku sejarah waktu wafatnya “Mbah Harjosapuro” disebutkan bahwa beliau wafat, badan-tubuhnya beliau masih hangat sampai di kremasi. Anggapan penulis, apa saat itu mbah harjosapuro masih hidup “Cuma dalam MODE RACUT”?. Kenapa kok terburu-buru di kremasi??? Kenapa kok tidak menunggu dulu 3-7 hari dulu??? (Ups, maaf hanya beranggapan saja). Dalam buku disebutkan bahwa posisi racut seseorang memang tidak bernafas sama sekali. Dan Sedikit CERITA sedikit tentang kakek saya almarhum karena mungkin ada hubungannya, kakek saya seorang kejawen tetapi bukan warga Sapta Darma, ajarannya hanya belajar mati sak jroning urip, posisi belajar matinya juga seperti di sapta darma yaitu posisinya tidur. Waktu itu jika kakek saya sedang lelaku mati di sebuah kamar atau di sebuah goa deket rumahnya, pesannya tidak boleh diganggu sama sekali, biarpun tidak bernafas “mati”. Pesan kakek jangan diganggu sampai kakek bangun dengan sendiri. (Begitu ceritanya)

Kembali ke topik, Konsepsi bopo yang luar biasa yaitu tentang kedisplinan, hanya untuk membagi waktu 5 jam sehari saja untuk kebutuhan rohani itu tidak mudah. Penulis mengamati, kenyataan saat ini khususnya remaja jarang yang melaksanakan secara kontiyu karena berbagai macam alasan, padahal di buku dasawarsa alasan apapun tidak dapat diterima. Dalam buku wewarahpun disebutkan “minim sujud 1 kali sehari”.  Bagaimana menanggapi tentang kedisiplinan tersebut??????

 

Tips & Trik Kedisiplinan Rohani

Kedisiplinan rohani tidak semudah kita mengatur disiplin secara jasmani, contohnya sujud dua kali sehari tidak mudah dilakukan seperti mandi dua kali sehari. Dan tidak mudah mendisiplinkan seperti makan tiga kali sehari, ini adalah faktanya. Banyak warga maupun tuntunan yang JATUH TUMBANG hanya dikarenakan tidak bisa mengatur kedisiplinan, DAN Banyak juga yang jatuh sakit, jatuh terpuruk secara ekonomi, jatuh masalah keluarga, dll hanya karena tidak bisa mengatur kedisiplinan rohani. Inilah hebatnya di Sapta Darma, jika tidak disiplin mengolah rohani maka pelilaku atau mode wening akan mudah terputus sehingga eling dan waspada berkurang yang akhirnya mudah membuat warga untuk melakukan kesalahan. Dan inilah hebatnya di Sapta Darma: “SALAH PISAN KENA PISAN”,  karma itu sangat cepat berlaku jika warga melakukan suatu kesalahan.

Pertapa profesional seperti Ibu Sri Pawenang sampai memberi wejangan: “ Dahulukan Rohani maka jasmanimu akan mengikuti”, “sinau o sujud nganti nglonyoh”. Dan Bopo juga begitu, secara fisik meninggalkan berkeluarga (kejasmanian) demi untuk mengembangkan ajaran. Anggapan penulis Disiplin secara rohani bukan berarti banyaknya melakukan sujud tetapi bagaimana dapat memposisikan agar supaya tetep sfer pada keweningan dalam setiap harinya. Semua pertapa profesional di Sapta Darma ini wajib mengalami jatuh kemudian bangun lagi. Pengamatan penulis di Sapta Darma, tidak jarang warga jatuh sakit tapi tidak bisa menyembuhkan secara pribadi, melainkan dibawa kerumah sakit atau minta bantuan orang lain. Padahal dalam buku wewarah diajarkan penyembuhan orang sakit secara sapta darma, kenapa bisa kedlarung-dlarung sampai tidak bisa menyembuhkan secara pribadi?mungkin dikarenakan kurang bisa mengatur kedisiplinan rohani.

Tahun 2004, Pengalaman terpuruk penulis alami saat jatuh sakit, hingga dokterpun tidak tahu sakit dan sebabnya. Ampun sampai akhirnya saya memutuskan untuk menyembuhkan sendiri dengan cara Sapta Darma, saya tidak keluar kamar semala 2 minggu. Dalam renungan, sakit karena saya tidak bisa mengatur tentang kedisiplinan, saya lepas kendali, jarang sujud dan akhirnya tidak sujud sama sekali selama setahun hingga jatuh sakit. Tapi saya engga menyalahkan Sapta darma, saya sadar itu kesalahan saya. Saya bisa konsisten disiplin kok sebelumnya. Setelah sembuh dari sakit, Bagi saya dunia sapta darma ini seperti puzzle yang harus saya pecahkan setiap hari. Dan bagi saya ini menyenangkan.

Perlu dibutuhkan modal yang besar supaya dapat mempunyai mental yang kuat dan akhirnya bisa mempunyai pola kedisiplinan yang luar biasa. Modal besarnya adalah hanya keyakinan untuk mencapai kesempurnakan lahir-hidup-mati (manghayu bagya bawana). Modal ini adalah dasar yang paling dasar (visi)  yang tertulis di bab paling depan di buku wewarah. Modal-mental disini, bagaimana untuk teratur dan mengontrol diri. Teratur mengelola waktu dan akhirnya teratur mengelola hidup.

Sulit manage waktu dan mengontrol diri. Karena bisa setiap saat menyaksikan pergerakan pola hidup kita. Mungkin ini karena commit pada 1 hal, maka rasanya tidak mau lepas dari pergerakan hidup. Saya rasa ini juga terjadi pada banyak pertapa lain. cara menanggulangi permulaannya bikin saja diri ini seperti robot, karena robot tidak berfikir tetapi jika sudah on dapat bekerja tepat waktu sesuai program yang ditentukan. Selanjutnya tidak boleh dirubah-rubah. Supaya hal ini untuk menanggulangi faktor psikologis kita sendiri agar tetap sfer-hening atau stick to the plan yaitu TEKUN-TEKAN-TEKEN.

Awal menjadi warga dan suka terhadap sapta darma, tentunya banyak mencari, mencoba dan mempelajari tentang semua di sapta darma, tanya tuntunan kesana-kemari, baca buku apapun tentang jawa maupun sapta darma. Saya kira normal, dan mungkin banyak juga warga yang pada awalnya seperti itu. Namun lama kelamaan malah membuat ribet, analisa saya karena terlalu banyak faktor yang diperhatikan. Akhirnya enaknya kembali saja ke yang paling basic dan simple, yaitu yang penting tekun, g neko-neko nantinya takan kemudian menjadi teken.

Disaat kita ngalor-ngidul mutar-muter kesana-kemari mencari jati diri, agama semua dipelajari, ilmu kejawen semua dipelajari tetap saja, sapta darma membuka mata kita. Dimulai Pengolahan sapta rengga hingga dapat didarmakan dan selanjutnya memposisikan darma itu kembali ke sapta rengga kita. Sapta menjadi darma kemudian darma bisa menjadi sapta.

Kesimpulan

Melalui wawasan diatas, kita telah belajar bahwa selain harus siap modal, mental pun harus siap digenjot. Untuk mencapai kebebasan berkehidupan yang kita impi – impikan bukanlah hal yang mudah dan butuh perjuangan keras, namun bukan pula hal yang mustahil untuk diraih.

Akhir kata, Bagi penulis, kalau dibilang sebagai pertapa sukses juga belum ya, tapi ini sebagai pembuktian bahwa disapta darma mampu menyediakan sebuah tempat “berteduh” yang aman dan nyaman bagi para pertapa, untuk mencapai kesempurnaan keselarasan keseimbangan berkehidupan, manghayu bagya bawana, sekian

 

Salam Waras

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: