Beranda > Serba-serbi > EVALUASI 50 TAHUN PERJALANAN PENGHAYATAN WAHYU SAPTA DARMA

EVALUASI 50 TAHUN PERJALANAN PENGHAYATAN WAHYU SAPTA DARMA

Oleh: Rindu Cahya
Sekilas pengamatan perjalanan sejarah wahyu Sapta Darma, yang di dalamnya mengandung petunjuk tentang hukum-hukum Allah Hyang Maha Kuasa yang dikenal dengan PEPANCEN dan PEPESTHEN atau KODRAT dan TAKDIR. Kemudian berlaku juga hukum SEBAB dan AKIBAT atau TANDUR dan NGUNDUH. Misalnya ada kalimat NGUNDUH WOHING PAKARTI (panggawe).

Pengertian hukum tersebut diatas, sebenamya secara umum telah dikenal oleh warga umum (masyarakat), namun masih perlu adanya pendalaman dan perluasan jangkauan pengertian dan kepatuhannya dalam kehidupan.

Wahyu Sapta Danna sebagai wahyu jawa (pepadhang jagad) telah menyelesaikan perjalanan sejarahnya untuk kurun waktu lima puluh ( 50 ) tahun sebagai pertama, dari 27 Desember 1952 s/d 27 Desember 2002. Kemudian penghayatan para warga-warganya telah meluas hampir seluruh (80%) propinsi di nusantara ini, bahkan telah berkembang ke beberapa mancanegara, dengan dibuktikan adanya kedatangan warga KSD mancanegara datang berkunjung ke Sanggar Candhi Sapta Rengga di Jogjakarta dan ke Sanggar Agung Candhi Busana Pare Kediri.

Untuk selanjutnya yang akan kita bahas pada kesempatan ini adalah khusus penghayatan wahyu Sapta Darma / warga aktif didalam negeri, sedangkan PENGAMATAN penghayatan ajaran wahyu tersebut hanya bersifat umum yang nampak pada permukaannya saja (tampilannya) atau bersifat lahiriyah pada saat berinteraksi dalam pergaulan / pertemuan – pertemuan dan lain – lainnya, tentu saja pengamatan dilakukan kepada golongan warga dengan lama penghayatan 5 tahun keatas dan atau aktifis – aktifis serta petugas -petugas kelembagaan Kerokhanian Sapta Darma diberbagai tingkat.
Secara umum dapat digambarkan dalam segi positif dan negatifnya, Sisi Positif adalah :

1. Sifat percaya dm bertambah kuat.

2. (5K) Kemauan untuk maju menjadi bertambah, baik dibidang kerokhanian maupun kejasmanian.

3. (5K) Kemampuan ada peningkatan dalam tiga kategori nilai sifat yang tumbuh, yaitu ada pada nilai sifat;

a. Bidang kerokhanian bersama kejasmaniannya
b. Bidang kerokhanian lebih maju namun kejasmaniannya wajar-wajar saja namun ada yang cenderung menurun.
c. Bidang kejasmanian atau kerokhaniannya masih diragukan

4. Tampilan kepribadian didalam pergaulan bermasyarakat (keluar) sebagian mulai tumbuh / peningakatan mengarah dalam sifat positif, namun juga ada yang sangat berhati – hati, sehingga cenderung menjadi tampak kaku ( kurang luwes) dan ……

Negatif :
1. Sebagian ada yang percaya dirinya cenderung berlebihan, dan tidak mustahil pihak lain akan menganggap sebagai sikap kesombongan.
2. (5K) Kejujuran terhadap diri pribadi sebagian masih nampak lemah (perlu terus segera dibangun pengertiannya).
3. (5K) Keiklasan masih harus dibangun serta perlu menyamakan persepsi dan memperluas pengertiannya.
4. (5K) Kaya darma masih harus terus dibangun dan perlu menyamakan persepsi / pengertiannya, misalnya secara kejasmaniannya nampak bermanfaat bagi berbagai pihak, namun secara kerokhanian sangat riskan, karena dapat mengurangi bahkan menghilangkan nilai darmanya.
5. Secara umum pengamalan (pendarmaan) Wewarah Pitu masih sangat lemah, dan selama ini masih sering mendengarkan dan melihat adanya perbedaan pengertian yang mengarah pada sifat berbenturan sesama warga / petugas kelembagaan, karena terlalu tebalnya muatan kepentingan diri pribadinya / akuisme, yang disebabkan karena adanya kesaksian / pembuktian kelebihan tertentu dalam pribadinya (mukjijat), sehingga manjadi terjebak / tenggelam / sengsem terhadap kelebihanya itu, sehingga berakibat sangat mengagumi / membanggakan dirinya sendiri menjadi berlebihan. Kenyataan seperti inilah yang harus segera diangkat dari ketenggelamanya agar demi sedikit dapat kembali sendiri dalam penghayatan ajaran yang selaras dengan tujuan wahyu Nya. Sehingga nilai darmanya tidak menjadi hilang sama sekali, dan kita harus sering ingat pepatah yang sering disampaikan oleh Bapa Panuntun Agung, Rame ing Gawe Sepi Ing Pamrih.

Demikianlah pengamatan secara umum yang dapat dipaparkan secara garis besamya saja yang masih harus dibahas lebih lanjut lagi didalam bawa rasa sesama warga sebagai bahan koreksi pada diri kita masing-masing guna naenyongsong hari depan yang lebih baik (guna menerima pepadhang dan sinar cahaya Allah Hyang Maha Kuasa dalam diri kita setiap warga).

Dalam upaya koreksi diri pribadi ini, kita semuanya harus bermodal / berbekal KEJUJURAN dan KEIKLASAN, terutama jujur dan iklas terhadap dirinya sendiri, yang selama ini telah merasa berjuang / berjasa / berdarma dsb, tidak perlu diingat ingat lagi apalagi sering dibicarakan (dipamerkan).
Selama kurun waktu 50 tahun sebagai tahap awal penghayat wahyu Sapta Darma, yang dapat juga disebut sebagai generasi pertama atau generasi pemula, yang masing – masing baru mengenal pada pengalaman jatuh bangun yang belum dimanfaatkan sebagai gurunya, serta kurang asah-asih-asuh dan tun-tinuntun / mong-kinemong sesama warga dll.
Kenyataan tersebut sebenamya sangatlah wajar, mengingat ajaran wahyu memang sangat luas jangkauannya dan universal, karena itu tidak perlu ada yang harus dipersalahkan atau ada yang merasa paling benar. Sebab manusia sendiri menurut pepancen / kodratnya tidak akan mampu menghindarkan diri dari sifat kesalahan secara total (benar mutlak).
Seyogyanya kita semua yang merasa sebagai warga Sapta Darma, apapun kedudukannya, yang ingin menghormati dan patuh mengikuti Panuntun Agungnya sebagai pelopor budi luhur, dan Tuntunan Agung Ibu Sri Pawenang yang telah melaksanakan kewenangan dengan penuh sikap arif dan bijaksana, menerima perintah dari Bapa Panuntun Agung Sri Gutama untuk menetapkan pedoman dasar penghayatan ajaran wahyu bagi para warganya, dalam bentuk buku ;

1. Buku Wewarah Kerokhanian Sapta Darma, jilid I, II (sebagai buku suci).
2. Buku Dasa Warsa (secara pokok uraian pedoman penghayatan).
3. Buku Pedoman Sujud Penggalian Pribadi Manusia (pendalaman pengenalan pribadi / pembentukan kepribadian yang asli)
4. Buku – buku pemaparan budaya spiritual (dalam berbagai macam dan kesempatan / fonun-forum tertentu)
5. Naskah – naskah Teks Sambutan Tanggap Warsa 1 Suro pada setiap tahun diselenggarakan
6. Catatan Fatwa Bapa Panuntun Agung Sri Gutama untuk segenap warga
7. Beberapa catatan notulen ular – ular dan penjabaran pengertian ajaran oleh Bapa Panuntun Agung dihadapan para warga
8. Buku catatan penjabaran pengertian ajaran wahyu yang bersifat luas / dalam serta universal
9. Buku sejarah Sapta Danna yang tentunya akan segera menyusul terbitnya

Kita segenap warga memang wajib melaksanakan dan menghayati ajaran wahyu dengan baik dan benar, artinya selaras dengan kehendak dan tujuan wahyu itu sendiri.
Sebagai pedoman dasar adalah Buku Wewarah Sapta Darma yang telah ditetapkan sebagai buku suci. Karenanya wajib kita pelihara dengan baik serta wajib selalu dibaca secara bertahap, dengan cermat dan dengan keematan rasa yang jemih. Sehingga dapat menemukan kandungan yang ada didalamnya, untuk penjabaran pengertiannya lebih lanjut.
Bapa Panuntun Agung telah berfatwa bahwa wahyu ajaran Sapta Danna ini masih dalam keadaan WUNGKUL (bahasa jawa) atau utuh / bulat, ibarat sebuah kelapa wungkul yang baru dimulai mengupas kulit serabutnya, untuk selanjutnya diharapkan (dikudang -kudang / bahasa jawa) para warga dapat mengupas lebih lanjut (sebagai satria utama) agar berkemampuan mendayagunakan / memanfaatkan serabutnya, tempurungnya, daging dan airnya yang ada, guna melengkapi / memenuhi kebutuhan hidup – kehidupan – dan penghidupan manusia, demi keluhuran dan kemulyaan manusia itu sendiri.
Kesemuanya itu secara bertahap dan berkesinambungan menjadi wajib kita bersama untuk mewujudkannya, karena itulah pengalaman perjalanan 50 tahun tahap pertama, apapun yang kita rasakan dalam dinamika dan romantikanya (baik / buruk – salah / benar – hambatan / dorongan dsb.), kita semua hams menerimanya dengan jujur dan ikias, Dalam pengertian insyaf (istilahnya Bapa Panuntun), itu semuanya merupakan wejangan berbentuk tantangan dan sekahgus peluang yang baik bagi kita segenap warga, yang selanjutnya wajib kita hadapi (sejatinya menghadapi din kita sendiri) dengan sabar, arif dan bijaksana, dan kita harus percaya, bahwa dengan tuntunan HIDUP / Pribadi kita masing – masing. Semua WEJANGAN dapat kita kerjakan dengan baik, serta dapat dilalui dengan tenang tentram dan membahagiakan kita semua, karena kita semuanya merasa sebagai KAWULANING GUSTI, yang wajib harus NGAWULA (MENGHAMBA) dengan baik dalam rasa yang jujur tulus dan ikias.

50 tahun tahap kedua (2002 – 2052) komunitas / warga ini patut disebut GENERASI PERSIAPAN (mempersiapkan din dalam pembentukan kepribadian yang asli). Sebagaimana kita makhuni bersama bahwa wahyu Sapta Darma akan membimbing warga – warganya untuk mencapai tujuan wahyu, untuk menikmati ketentraman dan kebahagiaan didalam alam dunia dan di alam langgeng. Tentunya dengan syarat setiap warga harus berupaya sendiri dalam membentuk dirinya untuk mewujudkan kepribadian satria utama yang hambeg budi luhur. Untuk itu wajib diantara kita / warga adanya saling asah, asih, asuh – tuntun tinuntun dan emong kinemong, yang selanjutnya akan selalu menerima kasih sayang dan perlindungan dari Allah Hyang Maha Kuasa (buku Wewarah bab 11 Gegayuhan ………. terakhir).
Kita semuanya telah mengarungi kehidupan dalam tahun 2006, berarti telah memanfaatkan waktu ± 4 tahun dari periode Generasi Persiapan, dalam mempersiapkan dirinya perlu perbekalan dalam memasang pondasi / dasar bangunan kepribadian, antara lain adalah;

1. (5K) Kemauan yang kuat, tidak mudah menyerah / putus asa, dengan sabar dan telaten terus berjalan sampai pada tujuan.

2. (5K) Kejujuran terhadap dirinya sendiri, sadar akan statusnya sebagai titah (tahu diri) kita dalam keterbatasan.

3. (5K) Keiklasan menerima kenyataan yang ada,tanpa harus memperbandmgkanjasa/ perjuangan / darmanya atau segala pengorbanan yang telah dilakukan.

4. (5K) Kemampuan dalam melaksanakan nomor 1, 2, 3 tersebut diatas, akan terus menerima tambahan berbagai kemampuan yang diperlukan dalam tugas kehidupannya lebih lanjut selaras dengan tahapannya.

5. (5K) Kaya darma, pengertian berdasarkan ajaran kita darma adalah bermakna kewajiban suci atau bersih, bersih dari segala bentuk pamrih. Kata darma mengandung makna sangat luas / dalam, misalnya berbentuk harta, benda, tenaga, pikiran, tingkah laku yang baik didalam pergaulan bebrayan agung.

Dengan unggah – ungguh, subasita, dan tatakrama, termasuk hubungan manusia terhadap alam lingkungan beserta isinya, dan hubungan manusia dengan Allah Hyang Maha Kuasa / Kawula Gusti, semuanya tidak akan meninggalkan tatakramanya masing – masing. Dan kesemuanya itu merupakan satu kesatuan penghayatan Wewarah Pitu yang telah terjabar dan terangkai dengan penghayatan nomor 1-4 tersebut diatas.

Adapun makna kata kaya adalah memperbanyak perbuatan darma pada setiap saat / kesempatan kepada siapapun tanpa pandang bulu (membeda bedakan). Semuanya bersfli dari pengharapan memperoleh imbalan berupa apapun dan dari pihak manapun (termasuk dari Allah Hyang Maha Kuasa) dan laku ini dilaksanakan selama hayat dikandung badan (sepanjang umur), yang oteh Bapa Panuntun Agung disebut TAPA PRAJA, yang identik dengan MAYA BRATA atau dalam sebutan RAME ING GAWE SEPI ING PAMRIH.

Salam Waras.

Kategori:Serba-serbi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: