Beranda > Serba-serbi > SERBA-SERBI catatan tentang KSD I (oleh: Bn Joyodisastro)

SERBA-SERBI catatan tentang KSD I (oleh: Bn Joyodisastro)

by Bn Joyodisastro)

12 JULI DI SUATU KETIKA; [1] Di SCSR Yogyakarta sjd penggalian Remaja tk nasional sedang berlangsung; Dan tgl. 11 Juli 19…… jam 22.00 diadakan penutupan . Dimulai dari pelaporan hasil, kesan-pesan sampai saatnya wejangan Sri Pawenang; gongnya penutupan Sjd penggalian. Sekitar jam 01.00 Bu Sri merasakan tubuhnya sudah “payah”, keringatdingin membasahi sekujur tubuhnya. Rasanya sumuk (bhs ind : gerah) kepala nyut2an dll yg intinya kondisi tubuh Bu Sri “tidak baik”. Akan tetapi karena “kecintaannya pd generasi remaja begitu tinggi, maka rasa tidak enak dlm dirinya itu ditahannya, dan terus memberi wejangan. Klimaksnya jam 02.00 Bu Sri sudah tidak tahan lagi, maka cepat2 saja beliau mengakhiri wejangannya dan pergi masuk ke kamar. Bu Rahman (alm, dr Ambarawa) merasakan ada hal yg tidak wajar, segera saja menyusul Bu Sri kekamarnya dan memijiti. Sekitar 30 menit kemudian, Bu Sudir (alm, dr Lumajang) pun merasakan hal yg sama, maka beliapun masuk menyusul Bu Rahman. Sesampainya di dalam, Bu Sudir melihat Bu Rahman sedang duduk simpuh disamping ranjang Bu Sri, tangannya masih memegang tangan Bu Sri, tetapi….tertidur. Bu Sudir perlahan mendekati Bu Sri yg sedang berbaring. Ia curiga melihat kondisi Bu Sri. Maka dgn perlahan ia sentuhkan punggung tangannya pd keningnya Bu Sri. Sungguh sangat terkejut. Kulit yg lembut tersebut terasa amat dingin. Bukan suhunya orang yang masih hidup. Dengan gugup, dipegangnya urat nadi Bu Sri, lebih kaget lagi karena sudah tidak ada denyutan. “Meninggal” begitu bisik bathinnya Bu Sudir. Ia panik bukan kepalang. Akan tetapi kesadarannya masih terkontrol dgn baik. Ia berpikir, jika berteriak…tentu akan terjadi geger/gempar. Karena sebagian warga remaja masih jaga dan obrol2 di kompleks sanggar, sebagian lagi di pendopo. Lalu “rasa”nya membimbing Bu Sudir untuk ening. Dalam ening Ia “sowan” dan bertemu dgn sinar Sri Gutomo. “Bopo…niku kados pundi Bu Sri” (Bapa…itu bgm Bu Sri). Tanyanya pd Sri Gutomo. “O..ora popo! Iku mung hukuman kanggo deweke, ono tugas sing durung dilakoke (O…tidak apa2! Itu Cuma hukuman untuk dirinya, ada tugas yang belum diselesaikan). Iku ono racune [penyakit] neng jero wetenge. Iki lho wujude koyo ngene (itu ada racunnya/penyakit di dalam perutnya. Ini lho wujudnya seperti ini)” Jawab Sri Gutomo sambil tangannya memegang sebuah benda, wujudnya kenyal warna abu2 dan terdapat semacam kulit tipis warna putih bergelembung, menyelimuti benda itu. “teras lajengipun kados pundi Bopo?” (lalu selanjutnya bgm Bopo) Tanya Bu Sudir. “Iku kudu ditokno lewat operasi dokter” (itu bisa di keluarkan melalui operasi dokter). Jawab Sri Gutomo dan menghilang. Bu Sudirpun “turun ke raganya” lagi. Lalu dgn hati2 memegang dahinya Bu Sri, kini telah hangat kembali. Ia memandangi wajah lelah Bu Sri, yg tengah lelap tidur. Tanpa terasa air matanya mengalir keluar. Sementara Bu Rahman masih tertidur bersandar disamping dipannya Bu Sri, juga tertidur lelap. Ke-esokan harinya, Bu Sudir pamit pulang kampung. Dan tak lama kemudian Pak Nadi Karsonohadi (tunt Prop. Jatim) datang. Penulis mendekati Bu Sri yg sedang duduk menghadap meja makan. Didepannya tersanding bubur hangat dan teh hangat. Bu Sri mengaweh (menggapaikan tangannya) menyuruh penulis mendekat dan duduk di kursi seberangnya. Setelah beberapa detik kemudian; Bu Sri bercerita tentang pengalamannya tadi malam. “De..td malam roh sy keluar dari tubuh sy; sy pikir sy akan meninggal. Roh sy naik…..keatas sana, wah….rasanya sy seneng sekali, tugas sy sudah selesai, sy-pun lega dan seneng banget tidak lagi mikirkan para tuntunan yg usrek saja. Tapi sesampainya disana, sy dicegat oleh Pak Sri; lalu Pak Sri bilang: “o Jeng, kamu belum waktunya kembali, para warga masih membutuhkan tenagamu, sana kembali”. Wah sy de…..yg tadinya sudah seneng banget merasa sedih lagi, lalu sy turun, kembali ke raga sy” (bersambung)

‎12 JULI DISUATU KETIKA [2] Penulis melihat raut wajah Bu Sri terlihat keruh. Ia menampakkan kesedihannya ketika mengetahui “tugasnya belum selesai”, Berarti beliau masih harus menghadapi [sebagian] para “tuntunan” yang suka ngeyel n mreyel. Dan Bu Sri kembali melanjutkan ceritanya: “Lalu….setelah sy bangun, sy lihat Bu Rahman tertidur disamping ranjang sy. Dan Bu Sudir baru ening didekatnya Bu Rahman” Bu Sri menghentikan lagi ceritanya, beliau tercenung, menunduk. “Lalu bgm Bu kelanjutannya” Tanya penulis ingin tahu. “Yah….kata Pak Sri lewat Bu Sudir, didalam perut sy ada penyakitnya dan harus dioperasi dokter; sy sebenarnya tidak mau, tapi kata Pak Sri begitu, yah…sy menurut”. Kata bu Sri lebih lanjut. Kiranya tidak lama setelah itu Bu Sri-pun masuk RS Bethesda. Yang mengantar Pak Nadi dan penulis disuruh menjemput Bpk. Maswan di Semarang,(beliau tuntunan prop. Jawa Tengah). Penulis membawa secarik kertas dari Bu Sri untuk Pak Maswan. Yang isinya cukup singkat; sementara Bu Sri rawat inap di rumah-sakit; maka tugas kerohanian diserahkan pada Pak Nadi, untuk petugas piket penjaga sanggar diserahkan Pak Maswan, dan untuk administrasi diserahkan pada seorang lainnya. Sepertinya dalam operasi itu berjalan sangat singkat dan tepat, sehingga ketika penulis mendatangi rumah sakit, operasi telah berjalan. Dan penulis mendengar cerita dari Pak Nadi tentang “benda” yang dikeluarkan dari tubuh Bu Sri. Anehnya segalanya pas sama persis seperti yang Bu Sudir ceritakan pada penulis. Padahal waktu itu, Bu Sudir ketika pulang kampung tidak bertemu dgn Pak Nadi. Penulis hanya bias merenung………………………………..koq pas ya.

‎12 Juli 1954 Makna yg tersirat dlm urutan diterimanya ajaran pd tgl. 12 Juli 1954, dimana yg pertama turun, terlihat gambarnya pd sastrojendra/tulisan tanpa papan berupa Simbul Pribadi Manusia (SPM), lalu Wewarah Tujuh dan kemudian Sesanti. Semua tentu ada artinya. SPM yg pertama turun, artinya bahwa melalui sujud, manusia/warga SD harus terlebih dahulu mengenal diri pribadinya; sekaligus dalam pengenalan tersebut juga pendalaman. Dan pendalaman tersebut juga perbaikan2 dlm diri pribadi. Yg dimaksud perbaikan itu pd unsur”sedulur/sdr” yg watak/perangainya netral, baik, dan sebagian besar kurang baik dan tidak baik. (pengenalan, pendalaman dan perbaikan tersebut melalui aktifitas/pelaksanaan SUJUD yg sungguh2 (jw:sing temen) dilakukan. Sungguh2 artinya “mengamati/meneliti” rasa yg meliputi seluruh tubuh. Dalam konteks tersebut, baiknya dilakukan setiap kali melaksanakan sujud. Atau Sjd Penggalian, artinya sebagaimana yg dimaksud oleh Sri Gutomo; Sjd penelitian/mengamati rasa, itu dapat dilakukan sendiri di rumah atau ber-sama2 di sanggar. Artinya ber-sama2 bisa dlm bentuk sujudnya bersama warga lain; atau “teteki” (dgn batas waktu tertentu. Bhs “teteki” dikenal dlm masyarakat jawa) dan atau melalui Sjd Penggalian (waktunya 6 hr 6 malam atau 12 malam = 36 X sjd.an). Jika warga SD sudah dapat “mengenal dirinya” sbgmana yg dimaksud/tertera dlm SPM; maka kondisi pada “kesucian Rasa yg diliputi Cahya” akan didapat. (hal ini ideal dicapai manusia/warga). Nah dalam kondisi ideal inilah para warga akan dapat melaksanakan Wewarah Tujuh dengan baik. Dan jika sudah dapat melaksanakan Wewarah Tujuhdgn baik, maka otomatis sudah dapat melaksanakan Sesanti. Dalam suatu kasus; [penulispun dlm tahap belajar]. Melihat kenyataan dilapangan dlm konteks “warga berkiprah” dlm darmanya (tuntunan, warga umum dan remaja); sering terjadinya “benturan2” yg tidak perlu. Bahkan diantara tuntunan sendiri juga tidak jarang terjadi “benturan2”. Hal tersebut terjadi karena “nalarnya” tidak dibimbing oleh “rasa”, apalagi oleh “cahya”. Tetapi masih dibimbing oleh “pengaruh/kekuatan sedulur/sdr”. Kenapa hal tersebut terjadi? Karena belum/kurangnya di dalam penelitian dan pendalaman diri pribadi; sehingga tidak “menyentuh” pada perbaikan “sedulur/sdr”.
Jika dijamannya Bu Sri Pawenang dimasa lalu; Beliau merasa “judeg” bahkan mendekati “frustasi” melihat kenyataan diantara “para tuntunan” saling berbenturan/bergesekan. Sehingga kondisi di daerahnya tidak kondusif. (Tapi jelas tidak semua tuntunan dan daerah seperti itu). Penulis sering pula menyaksikan seorang tuntunan “melaporkan” hal2 yg buruk rekan seperjuangannya. Juga menyaksikan seorang tuntunan melaporkan hal2 yg sifatnya “urusan pribadi” yg tidak layak diungkapkan dalam tulisan ini. Kesemuanya tentu saja membuat “sedih” beliau. Sehingga untuk “menghapuskan” kesedihan tersebut, Bu Sri mengkompensasikan “enerjinya” pada pembinaan remaja. Beliau sangat berharap banyak pd remaja. Beliau berharap, bahwa remaja “tidak ketularan penyakit” mereka yang mau “menangan sendiri, benar sendiri” dst. Penulispun berharap; kondisi tuntunan dimasa kini, sudah ada perbaikan, tidak seperti dahulu. Dan dalam kesempatan ini, menjelang “moment” 12 Juli; Dapatkah para remaja menyambut tantangan Bu Sri Pawenang; akan harapannya bahwa remaja nantinya dapat “menangkap” tongkat estafet dgn baik; melalui pendalaman2 ajaran Simbul Pribadi Manusia dst……… SEMOGA!

Pengalaman Jadi Panitia (2).Bulan Desember kembali tiba, penulis dpt kesempatan lagi jd panitia S  di SCSR Yogyakarta. Setelah sekitar 4-5 hari acara berlangsung, penulis dapat informasi bahwa ada seorg peserta yg sakit, sehingga “dibebaskan” darikewajiban sujud dan org tersebut hanya diam saja dikamar, tidak mau makan atau minum, ia hanya memeluk erat kedua lututnya. Sebagai panitia, salah-satu tugasnya adalah melayani peserta dgn baik. Penulispun mendatangi kamar dimana org itu berada. Ia sempat menoleh, namun kembali “tenggelam” dalam diamnya, begitu murung dan sesekali mengusapkan air matanya yg menetes keluar. Ia demam, dahinya panas dan berkeringat, tp anehnya tidak mau berbaring hanya duduk saja. Penulispun membujuknya membawa ke dokter Humar Atmaja di timur sanggar. Setelah kembali dikamarnya, ia masih ingin duduk dan tambah murung. Penulispun duduk disampingnya “ada apakah pak…..jika ada masalah….yah sabar aja pak” kata penulis basa-basi sambil meng-usap2 pundaknya. Penulispun bingung juga, mau berkata apa. Beberapa detik kemudian, tanpa diduga ia memegang erat kedua tangan penulis. “Aduh..mas tolong saya mas…..tolong saya mas….” Ucapnya dgn nada berharap, sambil menangis sesenggukan. “Sabar pak….sabar….coba ceritakan pelan2 ada apa….atau bapak ngalami apa?” kata penulis ingin tahu juga. Beberapa saat ia mengatur pernafasannya yg agak tersengal. Iapun mau minum air putih di gelas yg penulis sodorkan. Setelah agak tenang iapun memulai ceritanya. “saya…saya..sujud dapat tugas racut; saya berada di alam yang saya lihat…sepanjang mata memandang kedepan sana, yang ada hanya galengan (pematang) selebar sekitar 3 meter, terus rawa selebar sekitar 300 meter, setelah galengan, terus rawa lagi, terus galengan lagi dan begitu seterusnya seperti tidak ada batasnya”.

Ia menghentikan cerita sambil mengatur nafas yg mulai memburu. Penulis hanya diam mengamati wajahnya yg masih murung. “Lalu mas….yg bikin saya kaget gak karuan….ada orang lari –lari diatas galengan sambil ngawe2 (menggapaikan tangan) pada saya, awalnya saya buingung mas! Ada apa ini….dan setelah saya amati orang itu…..orang itu ternyata kakek saya mas….dia baru berlari-lari dikejar buaya….dia jebur kedalam rawa, tapi dirawa itu sudah ada
lagi buaya yang lain lagi dan ngejar kakek saya itu…….kakek sayapun luari lagi basruk2 alang2 yang ada dirawa itu….setelah sampai diatas galengan baru ambegan (menarik nafas-menghirup oksigen) sebentar, di galengan itu sudah ada buaya lagi yang ngejar. Kakek sayapun gebyur lagi ke dalam rawa…dan dirawa seolah sudah menunggu kakek itu buaya dan nguejar lagi kakek saya itu. Saya bingung mas….saya gak tau dulunya kakek saya itu salahnya apa, koq nganti nemoni sing kaya ngono”. Ia menghentikan ceritanya danmemejamkan mata seolah sedang menerawang kembali apa yang teralami dalam
racutnya. “Tolong mas…bagaimana caranya menolong kakek saya itu….saya kasihan sekali, masa sepanjang waktunya Cuma untuk lari dan lari hindari buaya2 itu, itu…sampai kapan selesainya mas….” Ia memandang lekat penulis seolah-olah ia yakin bahwa penulis bisa menolongnya. Penulispun hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, tidak ngerti bagaimana caranya menolong. Tiba-tiba penulis ingat
sesuatu….beberapa bulan yang lalu, Tuntunan Propinsi dari suatu daerah datang untuk menghadap Bu Sri, namun ketika itu Bu Sri baru menerima tamu tunt lain, halmana tunt tersebut baru melaporkan masalah hal-hal yang sifatnya pribadi. Setelah tunt tersebut selesai dan keluar dari ruang tamu, tunt propinsi ini menghadap.

Rupanya ia sudah maklum bahwa seringnya Bu Sri dianggap sbg psikater pribadinya, para tunt datang lalu laporan masalah pribadi, yang diluar hal lembaga/ajaran. Lalu ia berkata sambil lalu untuk basa-basi “Kalo saya sih tidak punya masalah pribadi Bu….tapi rasanya hidup saya koq tidak tentrem Bu, rasanya selalu gelisah terutama dimalam hari….itu apa ya Bu Sri?”. Tapi ucapan tunt propinsi yang selintas itu, ditanggapi serius oleh Bu Sri. “O…itu artinya leluhur jenengan minta pertolongan pak”. Jawab Bu Sri dgn nada serius. Orang itupun terhenyak dan menanggapi serius. “Maksud…Ibu bagaimana…..?” tanyanya agak gagap. “Begini….leluhur jenengan di alam sana sedang menderita dan mengerti hanya jenengan yang bisa menolongnya”. Bu Sri memberi penjelasan. Tunt itu terdiam, melamun karena ia merasa tidak bisa, Bu Sri rupanya dapat meyelami perasaan orang ini. “ Bisa pak…..asal bapak mau “. Kata Bu Sri kemudian.“Iya Bu Sri tolong bagaimana caranya?” tunt itupun dengan serta-merta bertanya ingin penjelasan. “ Jenengan sujud. Sujudnya jam 12.00 malam (00.00) krentegnya untuk nyuwunke ngapuro(memohonkan ampun) leluhur. Sujudnya dari jam 12.00 (malam) sampai jam 05.00 pagi.

Caranya, Sujud yang emat dari mulai pandangan satu meter, ucapan Asma Allah, mohon ampun sampai mertobat, berikutnya hanya merasakan rasa. Jika rasanya ingin membungkuk yah membungkuk lagi, mengucapnya ya rasa atau Hyang Maha Suci-ngucap mertobat. Setelah tegak lurus kembali, dengan pasrah, rasakan….jika rasanya ingin membungkuk ya bungkuk lagi ngucapnya mertobat. Jika rasanya tidak ingin membungkuk ya duduk saja sambil merasakan rasa yang meliputi seluruh tubuh, terus begitu sampai jam 05.00 pagi”. Bu Sri mengakhiri penjelasannya dan tunt itu Cuma mantuk-mantuk (manggut2). Cerita yang seperti ini penulis sampaikan/ceritakan pada peserta yang sakit itu. Tiba2 dia memegang erat kedua tangan penulis : “terima kasih mas…terima kasih, saya sudah sehat” Katanya berdiri sambil menyelipkan rokok ditangan penulis. “Mau kemana Pak?” Tanya penulis. “Mau sujud mas” jawabnya sambil menuju pendopo sanggar, sujud. (weleh….malah dapat rokok sebungkus, ah! Terima aja lumayan).

WAWASAN INGSUN [4] Kita/manusia mempunyai “tugas & perjuangan” yg sama. Atas “kehendak” Tuhan, melalui hukum hidup; bahwa manusia terlahir atas terjadinya Nur Cahya (Sinar Cahya Allah), Nur Rasa (air sarinya Bpk) dan Nur Buat (air sarinya Ibu). Menurut lazim/umumnya; secara teknis
terjadi melalui “hubungan badan” dan atau lewat “kecanggihan Ilmu Pengetahuan” misalnya bayi tabung dsb. Dan secara spiritual ada teknis yg lain (org menyebutnya sbg “teknologinya org jawa”; mungkin dilain kesempatan bs diterangkan dalam tulisan). Sang jabang bayi lahir; ia bersih (artinya belum melakukan perbuatan kesalahan). Ia suci, karena jelas dalam dirinya terdapat “percikan Sinar Allah”. Akan tetapi, bersih dan sucinya sang jabang bayi tersebut, juga “membawa” potensi kebaikan dan keburukan. Yang timbul karena : (1). Bgm proses terjadinya, sebelum bayi itu lahir atau saat dibuat, ketika janin dlm kandungan, perilaku/kelakuan ortunya. Hal ini potensi kuat yg akan membentuk watak/karakter. karnanya; ortu punya anak sekian, tp satu dg lainnya tidak sama. (2). Bgm unsur “kebaikan dan keburukan” yg terbawa dari ortu dan leluhurnya kedalam sang jabang bayi ini. (detailnya akan diterangkan dlm tulisan lain). Kedua hal tersebut, punya potensi kuat yg akan membawanya pada “nasib” kedepannya. Karenanya juga, sepasang ortu punya anak sekian akan tetapi nasib anak satunya bisa berbeda dgn yg lain. Sekarang; katakanlah sang jabang bayi tadi sudah dewasa dan mengenal ajaran Ketuhanan. Maka melalui ajaran tersebut, ia harus “mengenal” dirinya pribadi secara jelas dan tuntas. Minimnya ia harus tahu: “Ia siapa? – Ia dimana? – Ia akan kemana?” (ketiga pertanyaan tsb jika diuraikan detail tentu banyak menghabiskan tempat dan waktu), maka akan penulis uraikan dari sisi yg ringkas.

[I]. Ia, Sy atau Kita SIAPA? = Kita adalah manusia yg sudah terlanjur (kadung) hidup dimuka bumi (alam wajar) dgn menanggung segala konsekuensinya. Jika kita BENAR membawa hidup ini, maka selamatlah kita dan begitu sebaliknya. Dan kita “lihat”, kita “jenguk”, kita “tengok” KE-DALAM diri kita ini, ada apa saja yg “tersimpan” disana : (a). Jika sebagian besar berisi “kebaikan” atas perbuatan kita, atau unsur “keberkahan” karena limpahan dari perilaku baik ortu dan leluhur; maka berbahagialah kita. Kedepan bila saatnya tiba kita mempunyai potensi memetik hasil yg baik. Dan sebagian kecil “keburukan” atas perbuatan kita, atau unsur2 “racun” sbg limbah yg merekat dlm diri kita sbg limpahan dari ortu
dan leluhur; kita berjuang dan berusaha “mengikisnya” melalui sujud, mohon ampun dan mertobat. (memang tdk mudah, tp “lunyu2 paneken” – usaha dan upaya). (b). Akan tetapi jika sebaliknya,
sebagian besar berisi “keburukan” atas pebuatan kita & sebagian besar berisi limpahan racun dan limbah dari ortu dan atau leluhur, itu adalah BENCANA, sekaligus P-R (pekerjaan rumah) bagi kita. Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane, artinya masih ada kesempatan untuk “hindari bencana”
pribadi, untuk mernyelesaikan PR pribadi, Dan (secara spiritual+pribadi) kita akan SIBUK dalam menyelesaikannya. Dimana mengerjakan tugas itu, tidak bias diwakilkan pd org lain. Karena tiap 2 org sibuk sendiri dgn PR-nya. Dengan kondisi yg demikian, kita tidak sempat untuk SOMBONG, Kita malah prihatin dgn PR yg “setumpuk”. Kita tidak sempat “me-ngurusi” urusannya org lain. Karena urusannya sendiri saja telah banyak menyita waktu, tenaga, pikiran, dana dll. Tapi sbg mahkluk social, kita laksanakan sbgmana mestinya. Dalam kondisi yg seperti ini, kita masih sempat bersyukur, karena kita menjalani sujud. Sehingga acara “bersih2 diri” akan dapat efektip. Tinggal kita tancapkan tekad untuk mengerjakannya PR tsb dan menghalau rintangannya (BAKMI).

[II]. Ia, Saya atau Kita Dimana; Kita berada di area “medan laga” yang sama. Yakni alam wajar atau dunia ini. Karena kita mempunyai tugas yg sama, PR yg sama (hanya lain materi) dan perjuangan hidup yg mirip sama; maka yg terbaik adalah “saling menguatkan” diantara kita (karena sekuat dan setegar apapun, sosok manusia pasti ada titik lemahnya).

[III]. Ia, Saya atau Kita akan kemana?’ jelasnya setelah “tugas” dialam wajar ini selesai kontrak waktunya, maka hanya ada 2 tempat; yakni alam alus dan alam langgeng. Kemana kita akan “terdampar” atau tertuju, tergantung pada sejauhmana perjuangan kita dalam upaya “bersih2 diri” sendiri. Dan ada contoh menarik, ttg ulang tahun yg lazim diselenggarakan oleh kita/manusia. Ketika ultah tiba, kita biasanya menyambut dgn suka cita dan pesta. Dalam kalangan “org” spiritual, moment tersebut justru dijadikan untuk introspeksi dan evaluasi diri; bahwa semakin usia bertambah, semakin berkurang pula masa waktu kita tinggal di muka bumi ini; apakah kita sudah menjalankan kodratnya sebagai manusia sesuai dgn kehendak Tuhan? Apakah sudah, kita menyelesaikan PR-PR kita yg rumit dan remit itu? Dll….intinya justru “keprihatinan” jika kita belum berbuat apa2 untuk diri kita sendiri. Karena….kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Karena tidak tahunya itu, se-olah2 hidup kita ditentukan oleh waktu yg singkat. Artinya bisa saja kita “dijemput” jika tidak pagi, yah siang. Jika tidak siang, yah malam, jika tidak malam, ya pagi, terus begitu…… Karenanya, wejangan yg pernah penulis dengar dari Bu Sri; Jika kita masih bisa bangun tidur dipagi hari, artinya kita masih diberi kesempatan untuk hidup, ya kita sujud sbg rasa syukur masih diberi waktu. Sore hari, sujud sbg rasa syukur telah diberi selamet dan rejeki. Malam hari, sujud….barangkali ajal akan menjemput, kita dalam kondisi siap. Bagaimana menurut anda???

 

Kategori:Serba-serbi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: