Beranda > Sejarah, Serba-serbi > Serba-serbi catatan II …tentang KSD… (oleh: Bodro Nolo)

Serba-serbi catatan II …tentang KSD… (oleh: Bodro Nolo)

BAKMI :
Jarene Bu Sri Pawenang, sesuatu yg menghambat atau pantangan bagi mereka/ para warga yang ingin mendalami ajaran rohani/spiritual. Demikian yang sering beliau ungkapkan dalam setiap kesempatan ceramah di SCSR. Bakmi yang dimaksud bukan bakmi makanan (itu sih uenak enan!), tapi merupakan singkatan :
B=bosen/jenuh/jeleh. A=aras-arasen, lesu, krg gairah/semangat. K=keset, bawaan karakter/kebiasaan males. M=males/tidak ingin melakukan walau sebenarnya bisa,. I=isin/malu, entah malu pd diri sendiri ataumalu pd orang lain. Benarkan semua itu, ?jika ada yg kurang silahkan tambahkan sendiri

SRI Gutomo “mengetes” Anggota Rombongannya; Sejak Th 1956 Pak Sri dan rombongan/pengikutnya mulai keluar dari Kota Pare, dalam rangka tugas “meruwat” tempat2 tertentu. Selama kurun waktu tersebut, ada beberapa anggota rombongan yg tidak ikut lagi pd kesempatan berikutnya, namun selalu saja ada orang lain yang menggantikan posisinya, ikut. Pada suatu perjalanan “tugas”; diantara rombongan yg sekian belas jumlahnya terdapat 2(dua) org wanita muda (Bu Soewartini n Bu Sudir-Lumajang-Jawa Timur). Dalam suatu kesempatan istirahat ditengah hutan, mereka dengan otomatis membentuk kumpulan/kelompok sendiri2. Satu kumpulan diantaranya hanya Bu Soewartini n Bu Sudir, sementara Sri Gutomo menyendiri di pohon yg agak jauh, berdiri santai sambil menyandarkan pungguhnya pada sebatang pohon. Jelas acara istirahat para kelompok itu adalah ngobrol. Namun ada juga yg diam sambil mengatur nafasnya. Tidak lama berselang, ada se.org pria berdiri dari kelompoknya, berjalan perlahan menuju kelompok wanita. Laki itu bergaya dgn jalannya bak peragawan, ia mengusap-usap rambutnya yg jambul mirip “Elpipis” Presley. Ia berjalan sambil membetulkan letak krah bajunya yg agak terlipat, yah mirip2 Don-Yuanlah!. Ternyata, yang didekati Bu Sudir. (suatu kebetulan pd waktu itu Pak Sudir berhalangan ikut, Kerja sbg pegawai kecamatan). Tanpa “risih dan malu” sang Don-Yuan kampung itu merayu-rayu…….Ia membacakan parikan/wangsalan; Hal tersebut tentu saja membuat Bu Sri dan Bu Sudir saling berpandangan, heran. Dan lama2 jadi risih juga. Tapi Bu Sri hanya diam saja, karena yg menjadi sasaran “tembak” adalah Bu Sudir. “Org yg berpolah” itu didiamkan saja oleh keduanya, tapi semakin lama semakin “ndadi”. Akhirnya, Bu Sudir yg jadi sasaran tembak, mengambil sikap duduk ening. Meneges, apa yang sesungguhnya terjadi. Koq ini ada yang “nganeh-nganehi”. Ternyata dan ternyata; semua ini hasil “perbuatan” Sri Gutomo. Maka, tanpa ba-bi-bu lagi, Bu Sudir segera berdiri dan berjalan cepat menuju Sri Gutomo berdiri. : “Pak Sri, sampeyan! sampeyan sampun ngaten niku, kulo isin” (Pak Sri, situ jangan seperti itu, saya malu). Setelah dekat, Bu Sudir langsung saja menyergap Sri Gutomo dgn kata2 bernada jengkel sambil bersengut. Yang “dijengkeli” malah tenang2 saja.:” Ha…ha…ha…. ” Sri Gutomo malah menjawab “gugatan” Bu Sudir dgn tertawa lepas. Tentu saja Bu Sudir merasa heran. “Ha..ha…lulus kowe! Aku mung ngetes kowe…..wong kowe adoh soko bojo, nanging kowe ora terpengaruh karo priyo liyo”. Setelah berkata, Sri Gutomo kembali menyandarkan tubuhnya pd pohon, diam dan tidur…… Bu Sudir kemudian merasakan sekujur tubuhnya adem….maknyusssss. Dan kembali menuju Bu Soewartini yang masih duduk sendiri . ” O….itu cuma ngetes toh Bu….” Tanya Bu Soewartini setelah Bu Sudir berada didekatnya. Bu Sudir tidak menjawab, masih merasakan nikmatnya rasa adem yg meliputi seluruh tubuhnya.

WAWASAN INGSUN [Pembaca Boleh Koq Tuk Tdk Mempercayainya] Sri Pawenang dlm Buku Wewarah Jilid II; “Manusia hidup didunia sebagai makhluk Tuhan Hyang Maha Esa, wajiblah mengerti bahwa ia merupakan proses perkembangan dan penyesuaian antara karma dan kodrat manusia. Karena manusia (rohani/HMS) berasal dari Hyang Maha Kuasa yg suci bersih maka wajiblah ia memutarkan api kesuciannya yang baik untuk dapat tetap kembali kesucian lagi {kembali keasalnya}. N kata Embah saya : urutan generasi manusia keatas adalah : 1. Anak/pribadi, 2. Bpk/Ibu=ORTU, 3. Embah/Eyang, 4. Buyut, 5. Canggah, 6. Wareng, 7. Udeg2, 8. Gantung Siwur, 9. Goprak Sente, 10. Tebu Sinosok, 11. Petarangan Bubrah, dan 12. Amun-amun, dst……..; Yg sy yakini dalam “tesing dumadi”, LAHIRNYA SANG JABANG BAYI telah “membawa” sesuatu dari garis keturunan sebelumnya (orbtu, simbah, buyut dst), apakah itu berupa hal2 yg baik n sesuatu berupa hal2 buruk yg berupa BIASAN kesalahan perilaku, juga (mungkin) ilmu2 yg tidak sesuai dgn jalur Tuhan. Misalnya; dari sekian kebaikan dan kesalahan Ortu, beberapa diantaranya “masuk” terbawa pd si jabang bayi; begitupun yg dari Simbah dari Buyut dst. Seberapa yg masuk dan kepada siapa saja anak2nya, itu tidak bisa diprediksi. Maka bisa saja satu ortu dgn banyak anak, anak2nya kadang tidak sama nasib dan karakternya satu sama lainnya. Bahkan kecenderungannya satu anak dgn sdr lainnya itu BERBEDA. Kaitannya dgn hal diatas, maka tiap2 manusia mempunyai “potensi atau bakat” dari yg terbawa dlm kelahirannya. Jika yg terbawa baik maka yg didapat baik, sebaliknya jika yg terbawa buruk/kesalahan (katankanlah : LIMBAH), maka kesusahanlah yg akan didapat. Seakan-akan didepan manusia, itu ada JADWAL HIDUPnya. Jadwal yg akan ditemui dlm kehidupannya dlm kaitan NGUNDUH/ memetik dari sesuatu yang terbawa itu. Nantinya kedepan akan mengalami ini, itu dsb, dst…….. Karenanya; ada bahasa umum yg muncul adalah : “Bahwa tiap manusia mempunyai takdirnya masing-masing”. Dan ketika penulis merenungi nasibnya yg [menganggap] “kurang beruntung”, EYANG penulis menegur : “ORA PERLU DUWE ROSO KUCIWO, KEPENAK LAN NGREKOSO WIS ONO SING NGATUR, SING LUWIH PENTING KUAT LE MANEMBAH MARANG HYANG MOHO KUWOSO” (ind.: tdk perlu mempunyai rasa kecewa, enak dan susah sdh ada yg mengatur, yang lebih penting kuatlah/tekunlah manembah kpd Tuhan Hyang Maha Kuasa).
Kaitan hal diatas; Ada kata-kata “sudah ada yg ngatu”r, hal itu karena jadwal2 yg sudah tertera dlm dirinya; dan manusia harus bisa menerima APA YG TERJADI dlm kehidupannya itu. AKAN TETAPI, karena manusia diberi akal/pakarti, maka Ikhtiar, usaha dan upaya HARUS dijalankan. Karena Tuhan Maha Agung, Rokhim/Welas Asih dan Adil, siapa saja manusianya yg berusaha, maka akan diberi. Tentang jadwal diatas, itu bisa DIATASI dgn mohon ampun dan mertobat. Sehingga, jadwal yg “tidak baik” bisa dikurangi kadarnya; MISALnya, jadwalnya akan ngalami celaka kaki patah, akan tetapi dgn kemurahan Tuhan, mengalami kecelakaan dgn kondisi cuma lecet2 saja. Untuk total “menghapus” TIDAK BISA, karena KEADILAN Tuhan, siapa yg bikin akan memakai, siapa yg menanam akan ngunduh/panen dst.
Yang paling penting kita lakukan adalah : Kita menutup Kran LIMBAH” yg buruk dari leluhur, agar tidak membias ke-anak cucu kita kelak. Cukup sampai pd diri kita saja (dilakoni tekun manembah pd Tuhan, kita priatin nglakoni urip dgn bekti pada Jalan Tuhan) dan anak cucu kita tinggal merasakan enaknya saja. Artinya pd mereka tidak terbawa limbah2 dari leluhurnya, tetapi yg terbawa hanya unsur baiknya saja.
(bersambung ya…….)

WAWASAN INGSUN (2). [Kenapa yang “menanam” kesalahan leluhur, koq kita/anak cucunya yang “panen”; APAKAH ITU ADIL ???] Pertanyaan diatas sering diajukan pd penulis, dalam kesempatan temu konco. Memang kelihatannya tidak adil, tetapi yg lebih tidak adil lagi ketika leluhur yg menanam, tetapi yg ngunduh orang lain. Dan itu tidak mungkin. Sebagai gambaran (analog) begini : Kakek kita menanam pohon duren (apalagi duren montong; bagi yg doyan wih suedeeepp rek). Ketika pohon itu belum berbuah, si kakek meninggal dunia. Maka ketika saatnya pohon berbuah, maka yg adil, yg menikmati adalah anak cucunya. Betul? Bayangkan; adalah sungguh tidak adil, jika buah duren itu yg memanen orang lain. Itu tanaman pohon duren, ENAK. Begitupun jika tanamannya “RACUN” (perbuatan buruk/menyimpang) maka bisa jadi yg ngunduh anak-cucunya. Pertanyaan yg muncul; Jika leluhur yg menanam, kenapa tidak leluhur saja yang ngunduh/panen. Untuk sementara penulis jawab; itu rahasia Tuhan (tetapi sesungguhnya jika kita menggali Simbul Pribadi Manusia, jawaban akan didapatkan). Maka wejangane Bu Sri : “Kito nglakoni urip kudu setiti-ati-ati. Ojo nganti perilaku kito agawe ngrekosone putro-wayah. Yen kito agawe ngrekosone putro-wayah, suk bakalane kito dirasani elek karo putro wayah kito, umpamane putro wayah dadi wong sing ora genah neng ngalam dunyo, kito ugo ngrasake utowo luwih priatin neng ngalam kono. Mestine putro-wayah kita sing biyantu ndungokake kita neng alam kono, nging malah kito tambah susah amergo putro wayah kito ora biso mikul dhuwur mendem jero” (kita menjalani hidup harus ekstra hati2, jangan sampai perilaku kita membuat susahnya anak cucu, jika kita membuat susahnya anak cucu, kita akan dibicarakan jelek oleh anak cucu kita. misalnya anak cucu kita jadi orang yg tidak-beres di dunia, kita juga merasakan/lebih prihatin di alam sana. Seharusnya anak cucu kita yang membantu mendoakan kita di alam sana, tapi malah kita tambah susah karena anak cucu kita tidak bisa mikul dhuwur mendem jero/menyempurnakan). Nah atas dasar itu, kita mantapkan untuk lebih tekun lagi manembah pd Tuhan. Untuk dapat “mendekat” pd Tuhan, ada syaratnya. APA ITU?. Logikanya: Tuhan itu MAHA BERSIH, maka siapa saja manusianya yg ingin mendekat pd.NYA harus bersih pula. Untuk bisa bersih, yah kita harus bersih2 diri dari kesalahan. Lewat sujud, mohon ampun dan mertobat. DAN jika itu dilakukan, maka ada juga RESIKONYA. Apakah Itu? Kita bersih2 dari kotoran yg berupa kesalahan dlm perilaku kita atau dari bawaan leluhur; maka kotoran itu berupa kesalahan yg diproses menjadi hukuman. Mirip2 seperti maling lapor polisi. Kita mohon ampun pd Tuhan, dan Tuhan mengabulkan permohonan kita, maka kita menjalani hukuman yg bentuknya : Sakit, pahit, getir dan malu, yg intinya SUSAH. (diluar org yg korupsi/jahat; Orang2 yg beruntung atau ada org2 yg hidupnya nyaman, lapang dan kepenak, bisa jadi leluhurnya itu hanya sedikit saja “membekali” kesalahan dan lebih banyak membekali potensi kebaikan). Bersambung aja ya………

WAWASAN INGSUN (3). SOPO SING TEMEN BAKAL TINEMU; Artinya “siapa yang sungguh2/serius akan ketemu”. Kita pahami bersama, sejatine tidak mudah mendalami spiritual a sujud. Setiap warga bisa menuju tujuan ideal; yakni Bisa “menerima dawuh Gusti Allah dan melaksanakannya”. Hanya masalahnya MAU APA TIDAK? Karena aral yg melintang, jurang yg dalam, tebing yg terjal dll menghadang ketika menuju kesana. Kenapa begitu? Kata Eyang sy : “WONG AREP KEPENAK URIPE KOQ RA GELEM NGREKOSO”. Nah! sesungguhnya, kita mendalami spiritual/sujud adalah dalam rangka menuju urip kepenak. Tapi harus terlebih dahulu melewati “sandungan2” yg cukup berat dan memang berat. Kita harus bersih2 diri, menjalani proses hukuman hidup, harus begini, harus begitu…wah repot. Yah begitulah hukum hidup. Sesuatu “hasil” yang baik ADALAH TIDAK GRATIS. Ada pitukone/tebusannya. Semua tergantung manusianya, Apakah Ia punya TEKAD?, Apakah Ia takut terhadap persyaratannya itu. Tuhan membebaskan manusia untuk memilih mana yg dikehendaki (kan manusia punya purbo wasesa). Saya kira, kita bisa menguji disini; apakah kita orang pilihan, yg mampu mengatasi segala rintangan itu? Apakah kita org yang bisa memenuhi harapan2 para leluhur yg berharap atas kerja kita dlm mikul dhuwur mendem jero. atau kita menyerah saja…….karena BERAT COY!!!. Bagi mereka yg punya tekad, bahasa diatas sebagai jaminannya : Siapa yg serius, sungguh2 pasti akan ketemu. Bagaimana dengan ANDA? ( Mari kita bertanya kepada karang, kepada ombak, kepada matahari, tetapi semua diam, tetapi semua bisu, tinggallah kusendiri terpaku menatap langit, Lho malah nyanyi lagu Ebit! Dah dulu yah kapan2 disambung maning. WARAS !!!)

Persyaratan (yg diminta) Sri Pawenang; Tahukah anda? Ada persyaratan tertentu dari Bu Sri pd Pak Sri ketika Bu Sri ditunjuk (kelak) sebagai pelanjut kepemimpinan dalam lembaga KSD.Pada masa itu, sebelum ditutpnya sujud pedhalangan; sebelum Dasa Warsa; Sri Gutomo ketika menerima ajaran dari HMK, langsung saja diberikan kepada pengikutnya dan warganya; sehingga pada waktu itu jenis sujudnya macam2; diantaranya : sjd pandito, sjd rojo pandito, sjd brahma, sjd resi brahma, sjd brahmana, sjd raja brahmana, sjd sinar, sjd cahya dst……. Dan buku wewarah Kerokhanian cetakan 1958 (kemudian disebut buku kuning) berisi ttg penggalian sedulur, wasiat dan wejangan2 pendalaman ajaran. Hal tersebut apabila didalami oleh orang yg “tesing dumadinya” baik, tentu akan luar biasa hebatnya; akan tetapi jk tesing dumadinya kurang apalagi tidak baik, maka sering menimbulkan “motah” (suatu kondisi dimana org itu “sadar” akan tetapi ia tidak dapat mengontrol perilakunya, sehingga perilakunya mirip2 org kentir a gila). Akibat dari pada itu, di daerah2 banyak warga yg motah dan menjadi “geger” di masyarakat umum atau di kampung dan tentu saja menjadi tontonan.Dan org yg tesing dumadinya cukup baik, mudah tergoda untuk menggunakan “kekuatan” sedulurnya dalam rangka “PAMER” n butuh pengakuan Ia bahwa ia hebat. Ia bisa “terbang” ke atap rumah berlantai II. Ia bs memanjat dahan pohon kelapa dengan berjalan menuju atas; Bahkan sengaja mengajak org lain untuk “balapan” siapa yg lebih dulu sampai ditujuan. org itu dengan bis misalnya semarang menuju solo, sementara warga itu hanya dengan berjalan kaki. Akhirnya yg menang si warga. Jadi ajaran yg harusnya utk tugas, tetapi dipakai untuk main2. Maka Akibat “Eksploitasi” sedulur yg berlebihan, akhirnya motah dan warga itu menjeburkan diri ke kali, tidak perduli walau kali itu kotor. ia dengan lahapnya meminum dengan rakusnya. Hal ini tentu saja menimbulkan keramaian dan menjadi tontonan masyarakat. Geger lagi!.”Pak Sri, saya mau untuk menerima tongkat estafet dari Bapak dengan satu persyaratan”. Begitu ucap Bu Sri suatu ketika. Sri Gutomo menatap tajam, seolah ingin mengetahui apa yg akan diucapkan. “syarat yg saya minta, ajaran ini ditertibkan, saya tidak mau banyak warga yang motah dan menimbulkan geger dimana-mana; karena negara kita ini baru membangun Pelita demi pelita, kalau warga SD banyak membuat geger dimasyarakat, saya khawatir nanti SD akan dilarang, karena akan dianggap mengganggu ketertiban umum dan tidak mendukung program pemerintah”. Mendengar penjelasan itu, Sri Gutomo merenung. Setelah cukup lama. beliau menjawab : “Baiklah Jeng jika begitu menurutmu”. Maka kemudian ada kelanjutan program dari Sri Gutomo; Buku kuning ditarik dari peredaran; Diadakan penutupan sjd pedhalangan dan Diadakan Penggemblengan dan Penggalian Intisari Ajaran Kerokhanian Sapta Darma di SCSR Yogyakarta tgl. 1-8 Pebruari 1964.

PENGUSAHA (1). (Ini kisah nyata tp demi etika, penulis tdk menuliskan nama dan kota si obyek. Jd terserah anda….percaya atau tidak sumonggo). Ttg “sakit”, kira2 itu timbulnya karena 3 (tiga) kesalahan. (1). Krn kesalahan medis = misalnya dimalam hari kena hujan terus flu n pilek, dst; itu mengatasinya ya dgn obat medis a dari dokter atau jamu dsb; (2). Krn kesalahan perilaku = misalnya kualat, menyakiti hati org lain, janji pd orang atau Tuhan yang tidak ditepati atau perilaku2 lain yg membuat org lain susah. Jika sakitnya karna hal tsb; obat yg manjur adalah mohon maaf pd yg bersangkutan, dan atau mohon ampun pd Tuhan, plus di+ obat medis. Jika sakitnya dari kesalahan perilaku, tp hanya di-obati dgn obat medis saja, sulit banget, bahkan ada yg tak tertolong. (3). krn kesalahan orang lain yg “nyalahi” dgn santet.magig dll = obatnya mohon perlindungan Tuhan dan atau via org yg ngerti mengatasi hal tsb. (jika menurut pembaca ada hal lain diluar itu, silahkan ditambahkan ya….boleh koq.). Dalam kasus ceritera ini; Ada se.org warga, ia pernah “menangi”/ngalami jamane Sri Gutomo; Semasa usaha beliau masih “kecil” Pak Sri sering mampir bahkan menginap di rmh.nya. Dan kira2 ia mendapat “keberkahan” dari darmanya pd waktu itu. Setelah sekian lama “kepergian” Sri Gutomo, usaha org ini semakin maju dan besar. Tiba2 org tsb mengalami “sakit” yang tidak tersembuhkan. Padahal bolak-balik ke dokter n rumah sakit. Sampai akhirnya ia bosan dengan penyakitnya. Ia menyalahkan nasibnya ‘sing nandang lara ra mari2′. (IBARAT orang kesandung batu, ia hanya bisa menyalahkan batunya, ia lupa kalo batu itu “mung lantaran”). Dan “BER-IKRAR” lah dia dgn gagah perkasa’ barang siapa saja orangnya, yang bisa mengobati, menyembuhkan dirinya, ia akan ikuti ajaran org tersebut. Konon menurut ceritane, banyak pihak diundang datang untuk mengobati (soal uang, gak masalah, wong sugih je). Suatu hari ia sembuh oleh orang “pinter”. Setelah sebulan kemudian; Orang tsb beserta keluarganya; dgn kendaraan Colt Station (jaman itu org sdh pake mobil tsb sudah sip) mendatangi SCSR menemui Bu SriPawenang; Setelah basi-basi kulo-nuwun ia menyampaikan madsud tujuan hatinya. “Bu Sri, sesuai dgn ikrar sy, maka saya mau pamit keluar dari Sapta Darma dan tidak sujud lagi; Jika ada kesalahan saya sekeluarga, kami minta maaf”. Ucapnya dengan hidmat. Bu Sri yang “dipamiti” cuma senyum dan meng-angguk2 pelan. “Yah…pak, silahkan saja, saya tidak pernah melarang keinginan seseorang dan siapapun. Monggo silahkan. Sesungguhnya Sapta Darma bukan “punya” saya, saya cuma di “dawuhi” untuk membimbing para warga, itupun bagi yang mau saya bimbing. Dan Sapta Darma tidak membutuhkan orang, tetapi oranglah yang membutuhkan Sapta Darma; itupun bagi yang membutuhkan”. Tidak lama setelah itu, mereka berpamitan, pulang. Setelah mereka pulang Bu Sri masih ditempat duduknya dan berucap : “Harusnya…. mereka tidak perlu pamit seperti itu, jika tidak ingin menjadi warga (Sapta Darma) yah sudah diam saja, tidak aktif; Jika mereka tidak ingin sujud, yah sudah tidak usah sujud; jadi tidak perlu mereka pamit2 seperti itu” Ucapnya beliau seolah bicara sendiri, padahal penulis waktu itu mendengarkan. Dan tanpa basa-basi lagi beliaupun bangun dari duduknya lalu masuk kamar. Istirahat. Lalu beberapa bulan kemudian, SCSR mendengar berita lelayu/duka, bahwa beliau telah dipundhut oleh Hyang Maha Kuasa. Dia telah benar2 pamit…………..

PENGUSAHA (2).Ada sese.org warga yg telah diberikan “keberkahan” oleh Tuhan; banyak harta (rumah beberapa, mobil beberapa, tanah dimana-mana, plus anak banyak dan kesemuanya sekolah + kuliah); harusnya bersyukur, dan harus “menyadari” bahwa semua itu cuma titipan saja. Apalagi mereka sekeluarga diberi kesehatan. Org tsb, mempunyai SCB, namun masih ndompleng (menyatu dgn rumah induknya). Menyadari serba kecukupan dan kecintaannya pd warga, maka ia “mengumumkan” tanah miliknya yang terletak diantara hamparan tanah kosong (400 meter dari jln aspal) akan dia bangun sanggar dan diberikan pada warga. Namun….janji tinggal janji. Sementara salah satu usahanya buka klinik sedang maju2nya, artinya banyak pasien sampai antri2, karena dikenal dikalangan masyarakat disekitarnya. Namun… kembali hukum alam berjalan, anyokro manggilingan, tiada yg abadi. Org tsb jatuh sakit yg tidak kunjung sembuh. Berminggu sampai berbulan dirumah sakit. Suatu kebetulan, suatu hari Bu Sri ada acara tugas kerohanian mendatangi kotanya, ceramah umum bagi para warga. Keesokan harinya Bu Sri sebelum kembali ke Yogya, diantar warga mem-bezoek org/warga yg sakit tsb. “Bu Sri…. tolong saya Bu….saya yang salah….tolong mohonkan ampun pada Tuhan, nanti jika sembuh akan saya wujudkan janji saya……beri saya kesempatan Bu……tolong Bu…….” Ucapnya sambil memegangi tangan Bu Sri sambil menangis sedih. ” Ya Pak….saya mohonkan pengampunan pada Tuhan, semoga Bapak cepat sembuh yah pak……” Jawab Bu Sri memberi penghiburan. Faktanya tiga minggu kemudian ia telah sembuh dan keluar dari rumah sakit. Org tsb tengah menikmati “kesehatan” yang selama ini “menjauh” darinya. Beberapa bulan kemudian kembali ia membicarakan pembangunan sanggar dgn beberapa tuntunan setempat. Tapi tidak lama setelah rembugan, ia mendengar berita : bahwa tanahnya itu tidak kena gusur dan bahkan didekatnya akan dibangun sentral perdagangan bisnis; dibangun pasar tradisional yg besar, ramayana dept store. gedung Islamic Center, Rumah Sakit dll. Ia ragu…..akan memenuhi janjinya, ia banyangkan nilai tanahnya telah berlipat ganda (nilai ekonomisnya tinggi)
akhirnya semangat membangunpun perlahan padam…………dan terhenti…………. akhirnya pula nafasnyapun terhenti………. (wahai pembaca: Apa yang harus kita katakan? Diam aja yah…kita renungkan aja, andai kita diposisi org itu, mungkin sama atau tidak sama – akhirnya tergantung pd orangnya. Betul???).

JUMAT WAGE : Disuatu siang;Malam jumat wage itu, tiba giliran tunt n warga dari Kab. Tabanan – Bali, untuk “mengisi” acara di SCSR. Pd waktu itu datang dgn menggunakan dua bus besar, diantara kepala rombongan yg penulis ingat adalah Bpk. Dande yg tinggalnya di Tanah Lot. Ke-esokan harinya, pagi2 sekali Bu Sri kedatangan tamu, ia se.org klien dari perkara yg dibela Bu Sri. Klien tsb “memaksa” Bu Sri untuk berangkat ke SOLO, mengambil sertifikat di sebuah kantor notaris. Bu Sri ragu, karena malam jumat wage sampai siangnya waktunya fokus pd kerohanian/spiritual. Apalagi warga Bali punya kebiasaan khusus; dimana sebelum pulang, mereka berkumpul dulu di-pendopo sanggar, meminta bekal wejangan pada Bu Sri, baru setelah itu bersalaman berpamitan dan pulang kampung. “Sebentar saja Bu…tolonglah Bu, ke Solo kan dekat, sekitar satu jam, nanti setelah itu Ibu langsung kembali dan masih sempat menemui tamu2 Ibu….Tolong ya Bu…..” kata tamu itu dengan nada merayu yg di-melas2kan agar Bu Sri tergugah hatinya. Bu Sri berpikir, bahwa tamunya nanti akan pulang sekitar jam 11 – 12, maka masih cukup waktu dan bisa!, Singkat cerita, dengan mengajak Bu Rahman (Alm, dari Ambarawa) dan Klien tersebut menuju Solo (tentu saja diantar sang sopir). Tapi apa mau dikata, prediksinya salah….sang Notaris baru saja keluar, katanya si pegawai cuma sebentar. Ditunggu sampai lama, belum jg datang; Bu Sri berkali-kali lihat jam yg melingkar dilengannya. Akhirnya jam 12.30 baru datang. Klien tersebut setelah menerima sertifikat ia langsung pulang dan memisahkan diri. Bu Sri-pun mengajak kembali pulang menuju Yogya. Karena waktu berangkat belum sempat sarapan, tentu saja perut mereka “keroncongan” dan atas perintah Bu Sri, mereka bertiga mencari rumah makan. Setelah selesai acara mengisi perut dan akan memasuki mobilnya, alangkah kagetnya mereka; mobilnya telah “dibandrek” maling, tas Bu Rahman berisi kain2 dan tas Bu Sri berisi perhiasan dan uang telah raib. Akhirnya lapor di kantor polisi setempat; Dan Jam 14.00 baru keluar dari kantor Polisi. Unsur manusiawinya Bu Sri keluar. Sang sopir dianggap lalai dan dimarahi selama perjalanan dari Solo sampai Klaten. Lalu Ibu Sri diam, semua diam…hanya mobilnya yang tidak diam, karena mesinnya hidup, dan ketika memasuki prambanan, Bu Sri membuka percakapan. ” De……” Katanya lembut seperti biasanya pada sang sopir. “Maafkan Ibu ya De….Ibu telah marahi kamu. Sebenarnya Ibu yang salah. Ibu tidak mematuhi welingane Pak Sri, jika jumat wage harus fokus pd kerohanian dan sementara tidak ngurusi kejasmanian”. Katanya memberi penjelasan. “Apa yang telah terjadi di Solo, adalah HUKUMAN atas kesalahan Ibu”. Sang sopirpun menjadi tentrem maknyussss….rasanya. Sampai di SCSR sang tamu dari Bali sudah pulang. Sang Sopir menuju kamarnya untuk istirahat, sambil telentang mata memandang langit2 kamar ia membathin. : “Benar-benar…adil hidup ini, jangankan kita2 yang orang biasa, Bu Sri aja yang Tuntunan Agung, ketika salahpun di hukum”. Dan lessssss…..tidur lelap.

Pengalaman Jadi Panitia Pas acara sujud penggalian tunt di bln desember, penulis bantu2. ya…katanya sih jadi panitia,gitu!. Setelah berjalan sekian hari, ketika acara pelaporan peserta kpd tunt petugas, salah satu peserta mendatangi ke meja tunt tsb lalu menangis cukup keras. Tentu saja hal itu mengundang perhatian sekitarnya. Setelah usai laporan dan acara sujud dimulai lagi. Panulis melihat tunt yang dilapori tadi masih dimejanya, malah ngopi dan merokok. Penulis anggap ini kesempatan dan mendatangi, untuk cari tahu kenapa tadi pake acara nangis2 segala. Sebenarnya tunt tadi enggan menjawab ,akan tetapi yg tanya adalah “panitia”, maka cerita juga. “O..orang tadi itu dapat tugas racut. Ketika racut, dia berada di dalam sumur yang gelap gulita. Setelah agak lama, cuaca dalam sumur jadi remang2. Ia berpijak pada kedua batu dikanan-kirinya. Sementara di depannya terdapat pula satu-batu yang sedikit muncul diatas permukaan air. Kemudian ia mendengar suara yang lemah, memanggil berulang-ulang. Le….le…..tolong le… dan si-org itu bertanya ” Lho..siapa ??? dan dimana???” sambil menoleh kanan-kiri. terdengar jawaban “Iki aku le…..yang didepanmu itu aku bapakmu, yang kamu injak kaki kananmu itu kakekmu, yang kamu injak kaki kirimu itu nenekmu, tolongi le…….”
Tunt itu menerangkan “Lalu gimana pak selanjutnya?” tanya penulis ingin tahu. “Yah…sebagai anak yang baik punya kewajiban untuk mikul dhuwur mendem jero; artinya mendem jero yah mohonkan ampun pd Tuhan atas kesalahannya orang tua, mikul dhuwur yah kita unggahke roh sucinya agar diterima di pangkuan Hyang Maha Kuasa”. Setelah jelas penulispun permisi n pergi

Bu Sri Pawenang Belum Menyelesaikan Pe-eR:Penulis dpt cerita dari Bpk. Nadi Karsonohadi/Surabaya-Tunt Propinsi Jatim & Bpk. Parjono/Tulungagung (keduanya skrg sdh almarhum). Mereka bercerita dgn kurun waktu yg berbeda. Konon menurut kedua beliau; sama2 mengaku sebagai “saksi” yg mendengarkan perintah Sri Gutomo kepada Sri Pawenang. “Jeng, nanti tugasmu sepeninggalku, membuat buku wewarah kerohanian sampai jilid VII; untuk pedoman bagi para warga”. Ucap Pak Sri waktu itu dan Bu Sri tidak menjawab lain, selain “sendiko dawuh”. Tidak lama kemudian buku Wewarah Kerokhanian Jilid II sdh diselesaikan. Kemudian terhenti. Pak Nadi sebagai saksi merasa bertanggung-jawab secara moral; maka disetiap kesempatan mengingatkan. Bu Sri menanggapinya dengan senyum ” Iya nanti”. Karena jadwal kerja Bu Sri dalam keseharian begitu sibuk. Beliau jadi Ketua RT, Ketua PKK Kecamatan, Ketua Peradin (Persatuan Advokat Indonesia) cab Yogya, Anggota MPR plus yg sangat menyita adalah sebagai Advokat/Penasehat Hukum. Sekitar th 1992, Bu Sri memanggil se.org “remaja” yg berdomisili di Sanggar; Setelah remaja itu duduk dihadapannya : “De, kamu jangan nikah dulu, kamu harus bantu ibu menyelesaikan tugas dari Pak Sri, yaitu menyusun buku wewarah sampai jilid VII”. Katanya dengan mata menatap tajam. Sang “remaja” tidak menjawab, ia hanya diam. karena ajakan Bu Sri bertentangan dgn hati sanubarinya. Ia sudah merencanakan akan segera menikah dan meninggalkan yogya. Tanpa menjawab ia permisi dan pergi meninggalkan Bu Sri yg sedang menatap punggungnya. Bu Sri mengerti bahwa remaja tsb “tidak mau”, tentu saja Bu Sri Kecewa dan hanya bisa menarik nafas berat. Sehingga sampai Bu Sri menghembuskan nafas terakhirnya th 1996, tugas dari Sri Gutomo membuat buku wewarah sampai jilid VII tidak/belum terwujud. Si “remaja” tersebut tidak menyadari atas “Ketidak-bersediaannya” membantu Bu Sri; warga hanya “memiliki” buku wewarah jilid I; sementara jilid II yg sempat beredar sudah tidak dijual lagi. sangat terbatas; Akibatnya, ketika ada “sesuatu” penemuan dari warga/tunt yg tekun, mumpuni dan berprestasi; bagi pihak yg kurang/tidak suka (tanpa dikaji lagi); dengan mudah “menudingnya itu nyebal-itu menyimpang” KARENA TIDAK ADA DIBUKU. Bahkan “menuduhnya” sudah meninggalkan kemurniannya. Sementara Si warga/tunt yg menggali itu, merasa yakin dengan apa yg diterimanya; maka sikap “kontradiksi” pun tidak terelakkan. Dan jadi runyam. (penulis mendengar khabar burung…si remaja yg menolak itu sudah menerima hukumannya; nasibnya kabur-kanginan, istri dan semua anak2nyapun meninggal; mari kita berdoa untuk si remaja “mokong/bandel” tersebut agar mendapat pengampunan dari Hyang Maha Kuasa. berdoa selesai!).

Membaca BUKU BASAH Dikalangan penegak hukum di DIY, nama Soewartini Martodihardjo, SH cukup dikenal, malah pernah memegang Ketua Peradin (Persatuan Advokat Ind) Cab Yk. Ketika ada acara kumpulan organisasi, dimana Bu Sri mendapat “giliran” menjamu mereka “dirumahnya”, Bu Sri bingung. Karena “tidak punya rumah”. Jika diadakan di Kadisobo selain jauh, juga itu rumah ortu-nya. Jika diadakan di SCSR, itu rumah ibadah. Rekannya sesama advokat dengan nada canda mengatakan : “Nama sih dikenal, tapi koq rumah aja gak punya, gimana sih Bu?” Ucap Marhaban Zainun, SH, org “luar jawa” yg suka bicara apa adanya. Dibegitukan Bu Sri cuma tersenyum. “Wah De, Sy sebenarnya malu dikatakan begitu oleh Pak Marhaban, tapi faktanya memang begitu njur arep kepiye?” Ucap Bu Sri pada penulis, seolah bertanya pd dirinya sendiri.”Ya…beli aja rumah Bu! kan juga bisa dipakai untuk istirahat ketika jenuh di sanggar”. Kata penulis sekenanya. Ternyata beliau serius, tidak lama kemudian beliau membeli tanah dan membangun rumah di kampg Banteng. Ketika selamatan rumah baru, bikin tumpeng; sebelum acara dimulai Bu Sri berbisik/bicara perlahan pd penulis :”De, kamu kalau bisa belajar lho…untuk bisa membaca Buku Basah”. Penulis mengernyitkan alis. Gak pernah dengar istilah itu. “Maksudnya Ibu apaan tuh?”. “Yah…tulisan di buku itu namanya Buku Kering. Tulisan tanpa Papan namanya Sastro-jendro- Buku Basah itu ketika kita lihat benda hidup, misalnya manusia, maka dgn sendirinya kita bisa mengetahui apa dan bagaimana dia. Misalnya kita lihat hewan, dapat ngerteni apa sesungguhnya dibalik hewan itu”. “Wah angel banget tuh Bu” penulis menyela dan membantah sekenanya. Beliau akan menjawab lagi tapi acara tumpengan dimulai. Belasan warga remaja berkumpul dan tetangga di undang. Setelah acara usai, hanya tinggal Bu Sri dan para remaja saja; dalam kesempatan ini beliau memberi wejangan :”Para remaja semuanya, sujud itu memang tidak mudah, tapi kita harus tetap berusaha untuk bisa. belajar terus…sampai sujudnya nglonyoh” (sampai disini beliau diam sejenak: nglonyoh artinya suatu kondisi yang kontinyu-sehingga bukan lagi barang asing, tapi sudah terbiasa, sudah mendarah-daging, karena sdh biasa melakukannya). “Kita sujud adalah mengolah rasa. Bila terus kita olah – kita kontinyu-maka kita akan menjadi org yang ahli rasa – sementara semua org rasanya sama, maka kita dapat ngerteni orang lain. Tapi jika kita tahu org itu apa dan bagaimana, apa lagi menyangkut hal-hal yang sifatnya rahasia, kita dilarang untuk mengungkapkannya, cukup dingerteni sendiri saja – jika kita langgar, apa lagi dgn maksud pamer agar dibilang hebat dsb, hukum hidup akan mengenai kita. jadi kita diam saja dan andaikata org bilang kita bodoh, tidak ngerti yah biar saja. yang pentingkan tidak seperti itu”. bla….bla……terus beliau memberi ceramah yang panjang; dimana penulis tidak hapal semuanya. Jadi disudahi dulu yah….nanti disambung maning.

Sri Gutomo Meruwat Candi Agung Candi Agung terletak di desa Randuagung-Klakah-Kab. Lumajang. Di desa itu pula tinggal keluarga Bpk. Sudir dan Ibu, yg merupakan pengikut di-awal2 perjalanan Sri Gutomo. Candi tsb sekarang ini sudah tidak utuh lagi. Hanya tumpukan bata merah yang menandakan berdiri dijaman hindu. Konon, menurut Pak Sudir, candi tersebut angker/wingit. Banyak manusia atau hewan yang mendekat/masuk ke candi tersebut meninggal dunia/mati. Dan menurut sejarahnya, candi agung tersebut tempat bagi Raja2 dimasa lalu digunakan untuk “nenepi” atau “bertapa” atau “semedi” mohon petunjuk atas “ontran2″ atau masalah yang dihadapi dalam kerajaannya. Didalam candi tersebut terdapat patung Ganesa setinggi sekitar satu meter. Suatu hari Sri Gutomo + beberapa pengikutnya mendatangi rumah Pak Sudir. :”Pak Sudir, di daerah ini mana tempat yang patut di datangi?” Tanya Pak Sri setelah beberapa saat masuk rumah. “O…Biting Pak Sri” Jawab Pak Sudir spontan. yang dimaksud adalah Beteng yang dibangun oleh R. Aryawiraraja (ayahnya Ronggolawe). ” O bukan itu, di dekat sini saja koq” Ucap Pak Sri dgn nada penasaran. Tiba2 Pak Sudir teringat tempat yang angker. Candi Agung. Maka Sri Gutomo dan rombongan mendatangi tempat itu. Ternyata tempat itu merupakan yang paling kuat enerjinya dibandingkan tempat2 yang pernah diruwatnya. Konon menurut ceritanya, Sri Gutomo sampai pingsan meruwat tempat itu. Setelah selesai, mereka kembali ke rumah Pak Sudir untuk istirahat. Dan yang terjadi kemudian……setelah candi agung telah netral, patung Ganesa telah raib digondol maling. ( Pak Sri…Pak Sri… ngerti ngono, mau ra-sah diruwat wae, madangke dalane maling)

Sri Pawenang; Mengadakan “upacara pemakaman jenazah kucing”. Di SCSR Yk. ada beberapa hewan sbg “kelangenan” Bu Sri. (1). Ikan hias di aquarium. (2). Burung Nuri di dlm sangkar n (3). Para Kucing, yg dibiarkan berkeliaran di dalam kompeks sanggar. Hebatnya, kucing segitu banyaknya, semuanya diberi nama sama : KITY. Karenanya ketika Bu Sri memanggil nama “kity….!!!!!”, maka semua kucing berlomba mendekat. Disuatu ketika, salah satu “kity”nya sakit. Bu Sri lalu menyuruh sopirnya membawanya ke klinik hewan UGM. “Bila perlu rawat inap” begitu pesan Bu Sri pd sang sopir. Ternyata kata “dokternya” tidak perlu rawat inap, maka sang kucing kembali ke sggr. Akan tetapi, takdir berkata lain, sang kucing mati. tentu saja Bu Sri jadi sedih. Dan menyuruh Pak Hadiwijoyo (tk kebun) untuk menggali tanah di kebun (skrg jadi ruang loby), Bu Sri mengambil morinya yg biasa dipakainya untuk sujud, dipakai untuk membungkus jenazah kucing tesebut (eman2 yah….morinya Bu Sri lho). lalu Ibu menyuruh para penghuni sanggar dan remaja yg kebetulan main ke sggr untuk berkumpul. Mereka disuruh mengitari “kuburan” kucing dan Bu Sri mengajaknya utk berdoa. Para remaja (laki2 terutama) pada cekikikan menahan geli, lucu!,mereka saling colek satu sama lain, karena menganggap aneh. kucing aja koq di-upacarai seperti itu. Setelah pembacaan doa selesai; belum lagi “para pelayat” bubar, tiba2 Bu Sri mengatakan :”Dulu, hidupnya kucing ini manusia”, para remaja yang tadi cekikikan jadi serius ingin tahu. “Akan tetapi, ketika didalam hidupya sebagai manusia, ia tidak dapat menjalankan titahNYA sebagaimana mestinya. maka di kehidupan skrg Tuhan menempatkan hidupnya itu pada raga kucing. Yang Ibu hormati ini, pada hidupnya, bukan jenis kucingnya. tapi harap dipahami, tidak semua roh manusia yang “tidak beres” itu masuk keraga kucing. Dan tidak semua kucing itu dari roh manusia. Semua tergantung Tuhan, karena Tuhan Maha Purba Wasesa, Sekarang selesai!” Ucap Bu Sri sambil pergi meninggalkan para remaja yang masih bengong.
(I). 1978 : Wejangan Sri Pawenang (yg meng-henyakkan). Ketika itu penulis sbg peserta dari daerah mengikuti sjd pggalian di SCSR. Di akhir acara SP Bu Sri menutupnya dan memberi wejangan; ” Anak-anakku para remaja, jalanmu masih panjang, masih banyak yang akan kalian capai dan rengkuh, perlu mencari pengalaman hidup, maka kalian janganlah tekun-tekun banget sujudnya….dst”. Penulis merasa “kaget” mendengar wejangan tsb; wejangan dari se.org tunt. agung meminta warga remajanya untuk tidak tekun sujud. Penulis yakin tidak salah dengar. (mgkin rekan yg lain juga sama, terhenyak). Sesampainya di rmh, wejangan itu masih ter-ngiang2 – seolah terpatri dlm memori otak. Selepas SMA, sengaja melanjutkan sekolah di Yogya, sambil cari kesempatan utk meminta penjelasan detail ttg wejangan tsb. Setelah sekian tahun, datanglah kesempatan itu; Penulis duduk diseberang meja dimana beliau duduk. Setelah penulis sampaikan pertanyaan; untuk beberapa saat beliau menatap tajam…penulis hanya bisa menunduk. ” Begini De……” terdengar ucapan bernada sabar dari beliau dan penulispun berani kembali memandangnya, beliau tersenyum, matanya sudah tidak tajam lagi. tenang…… : “Yang ibu maksud sujudnya jangan tekun2 banget itu, dimana remaja itu hanya menghabiskan waktunya mligi/melulu untuk tekun sujud. Melupakan hal2 lain seperti belajar di sekolah, berkumpul dgn teman2nya dst. Hukum HIDUP ini adalah sebab-akibat. Siapa yg menciptakan SEBAB, pasti akan menerima AKIBAT. Menciptakan Sebab baik, akan timbul Akibat baik dan begitu sebaliknya. Seandainya kita menciptakan sebab negatif (tdk baik) dan kita pula yang “ngunduh” atau memetik akibatnya; maka itu wajar2 saja. Semua akan bisa menerima. Akan tetapi yang sulit kita menerimanya ketika org-tua, kakek atau buyut dst yang melakukan tindakan negatif atau menciptakan sebab negatif karena perilakunya buruk atau tidak pas dan seterusnya, Dan kita atau anak-cucunya yang menanggung akibatnya; kan menjadi susah. kasihan anak cucu kita nantinya. Bayangkan saja, anak cucu kita menjadi susah dan menderita dalam hidupnya atas perbuatan kita. mereka tidak tau apa2 tetapi dalam kelahirannya membawa ‘kesalahan kita’. Paham De?”. Penulis hanya tersenyum kecut, karna krg paham. “Maaf Bu….apakah ini ada kaitannya dgn yang Ibu sampaikan pada waktu itu?” Tanya penulis penasaran. (bersambung ya….)
 (II). 1978 : Wejangan Sri Pawenang.Beliau kembali tersenyum dan tampak kesabarannya yg agung. “Begini De………” kemudian beliau menerangkan simbul pribadi manusia, asal mula manusia.. … bla…bla….bla….penulis masih belum “mudeng” belum menangkap. Beliau tersenyum lagi dan ucapnya kemudian : “Intinya Ibu melihat, SEBAGIAN peserta sjd penggl remaja pada waktu itu tesing dumadinya, didalam dirinya terdapat limbah2 yang merembes dari orang-tuanya, simbahnya, atau leluhurnya, akibat dari dari perilakunya yang negatif atau tidak pas. yah jelas ada juga terdapat unsur baik dalam dirinya atas perbuatan baik leluhurnya. Jika kondisi seperti itu dimana banyak terdapat limbah atas kesalahan bawaan, maka ketika tekun sujudnya secara terus menerus, nanti akan timbul masalah2 baru; wujudnya seperti cobaan2 hidup atau masalah2 yang bermunculan. Ibu hanya khawatir…di “usia se-belia” itu apakah mampu dan kuat menerimanya atau menanggungnya? Jika saja kuat tentu Ibu akan senang dan bangga, ia akan jadi manusia gemblengan-satria utama. Akan tetapi jika tidak kuat, bisa2 mereka tidak mau sujud lagi”. “Nah…kenapa bisa begitu Bu?” penulis menyela tanpa sadar. “Iya De, karena dengan ketekunan sujudnya, sesuai dengan yang tertera di buku dasa warsa, dia sujudnya akan sampai pada HMK, logikanya jika sampai dihadapan HMK, lalu mengucap ‘kesalahannya HMS mohon ampun HMK’ Dan Tuhan mendengar ucapan itu, dan karena memintanya sungguh2, maka Tuhan akan menerima permintaannya itu dan memproses kesalahan orang itu, baik kesalahan bawaan maupun kesalahan pribadi perilaku dalam hidupnya sehari-hari sebelumnya; dimana bentuk hukuman itu bisa macam2, yang intinya kita akan susah rasanya, merasakan pahit getir bahkan rasa malu dll. Maka Ibu tidak mau mereka yg masih remaja mengalami itu semua, karena remaja itu masih ‘bakal’, masih rentan, masih labil. Akan tetapi banyak juga remaja yang kuat mentalnya, tahan banting, yang seperti itu yang Ibu harapkan dan Ibu banggakan. Dulu Ibu digembleng Pa Sri, wah…habis2an de…….hampir saja waktu itu Ibu gak kuat, Ibu rasanya mau pulang saja ke rama ibu di desa”. Beliau menghentikan penjelasannya, untuk sesaat suasana jadi hening; “Bagaimana De ? sudah mengerti?” tanya beliau memecahkan keheningan. ” Oya..sebelum Ibu sudahi, ada hal yang perlu kamu ketahui, bahwa di SD ini ada Jalmo pinilih (manusia pilihan) jumlahnya 1-5-40″ berhenti disini beliau menatap lagi dengan masih tersenyum :”Maksudnya apa dan siapa itu Bu?” tanya penulis ingin tahu….. “Baiknya kamu cari saja sendiri” jawabnya dengan enteng sambil bangkit dari tempat duduknya dan beliau melangkah masuk kamar. Penulis sejenak merenung dan ngunjal ambeg.
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: