Beranda > Sejarah, Serba-serbi > Serba-serbi Sejarah KSD (oleh Bodro Nolo)

Serba-serbi Sejarah KSD (oleh Bodro Nolo)

‎”Apakah anda tau; mulo-bukane lembaga remaja di KSD?” : di th’70 an, di SCB Sagan (lk 2 km utara sggar Agung) tmpat berkumpulnya para remaja utk sujudan (diantaranya mas Hartadi, ms. Pujianto, ms Kusmanhadi, ms. Bambang Purnomo, ms. Joko Resmihadi dll). lalu mengajukan usul pada Bu Sri, agar diadakan khusus sanggaran remaja; Bu Sri menerima baik usulan itu, maka tiap mggu pertama tiap bulannya, diadakan sggaran n Bu Sri selalu memberi wejangan.Dari situ timbul ide utk mengadakan Munas Remaja, maka th 1976 diadakan Musyawarah Nasional Remaja yg pertama di Yk. kemudian yg ke2 th 1979, ’82 dst shingga selanjutnya disebut Sarnas.

Tahukah anda; seputar kelahiran Bu Soewartini (Sri Pawenang) ada seklumit crita; pasutri Bpk. Martodihardjo n Nyi; tinggal di desa kecil Kadisobo-Sleman; punya anak pertama WANITA, lalu punya lagi anak kedua jg WANITA; maka ketika Nyi Martodihardjo lagi mengandung; sang ayah yakin dan pengharapan besar bhw anaknya yg dikandung ini kelak lahir anak LAKI2.maka perintah kpd istrinya, agar popok2 bekasnya diganti dgn yang baru utk menyambut kelahiran sang jabang bayi : putra lanang (laki2). Akan tetapi, fakta berkata lain; yg lahir jg wanita yg kemudian dinamakan Soewartini. hampir selama satu bulan, sang bayi tidak pernah disentuh oleh sang ayah; hal itu karena kecewa berat. akan tetapi….namanya juga anak darah daging sendiri yah….akhirnya diterima juga. Kata Bu Sri kemudian; “walau Saya se’org wanita, akan tetapi cara kerja saya, tenaga saya, cara berpikir saya, cara saya menyelesaikan suatu hal TIDAK KALAH OLEH LAKI2. jd secara tidak langsung, kehendak ayah ingin punya anak laki2 sdh tercapai”.( n akhirnya jg anak ke-empat Bpk. Martodihardjo lahir laki2, diberi nama Soetardjo).

Disekitar th 1962an, suatu hari Sri Gutomo tengah ber-bincang2 dgn pak Hadiwijoyo (tukang kebun wktu itu) dipendopo SCSR Yk; lalu datanglah se-org (warga), setelah nyampaikan salam, org itu lalu sujud; sujudnya begitu cepat, sehingga hitungan menit sudah selesai. org itupun pamit terus pergi. setelah pergi, komentar Pak Sri : “SUJUD KOQ CEPET BANGET, OPO SING DIRASAKE”. Gak lama kemudian, datang lagi org untuk sujud; Orang yang kedua ini sujudnya sangat lama, sampai ber-jam2; setelah org itu pergi, Pak Sri komentar : “SUJUD KOQ LAMA BANGET, OPO SING DI GOLEKI”.Pak Hadiwijoyo yg mendengar itu cuma diam, diam dan diam.

Cuma skedar INFO; ttg mulo-bukone Urutan Materi Sjd Penggalian dlm lembaran kertas; Itu terjadi setelah th 1980an; sebelumnya tunt sjd peggl hanya berbekal kertas kosong dan pulpen. Peserta yg datang melapor didata, lalu ditanyakan apa2 yg dirasakan. (dasarnya sujud para peserta sesuai yg tertera dlm buku Dasa Warsa). Hal tersebut berlangsung sejak Sri Gutomo nuntuni. Rupanya, pengalaman2 mengikuti sjd penggl terus diamati oleh Bpk. Purwoko (alm) dari Surabaya. Ketika acara Desemberan (sjd penggl u para tuntunan). Pak Purwoko menyampaikan :konsep” itu pada panitia; katanya utk keseragaman, pedoman dan kepraktisan bg para petugas yg nuntunit. oleh panitia dibawa ke Sri Pawenang; karena hal tsb suatu ide yg bagus, maka diterima dgn baik, lalu dibantu oleh Bpk. Sosrowimpuno (alm) dr Solo, Bpk. Setyoatmojo/Nganjuk dan bpk2 tuntunan lain; sehingga jadilah suatu urutan tugas / materi sjd penggalian. Beberapa waktu kemudian masih diadakan penyempurnaan, sehgga seperti yg sekarang ini.

Seklumit Pembangunan Sanggar CSR; Setelah Pa Sri sdh menemukan “Org yg dicari”, maka praktek dukun tiban dihentikan. Pa Sri n beberapa org warga/ rombongan jd sering datang ke kost Soewartini, di rmh mbah Tepo. Sejak itu untuk menjamu, Bu Soewartini sering mem.bw beras, singkong, telo rambat/ubi dari desanya. Ke.dtngan Pa Sri n rombongan menimbulkan niat mbah Tepo utk menghibahkan rmh tanahnya pd Ibu Soewartini. Ketika mbah Tepo meninggal, penghibahan itu diprotes keponakan mbah Tepo (sdr. Wandi); sehingga sampai maju di mejau hijau Pengadilan Negeri Yogyakarta; diakhiri dgn perdamaian; disisi timur dimiliki Sdr. Wandi, disisi barat dimiliki Ibu Soewartini, namun begitu, Ibu masih harus “nyusuki” memberi uang dgn sejumlah tertentu pd Sdr. Wandi. Karnanya sertifikat tanah tsb a/n Soewartini Martodihardjo, SH. (entah skrg) Kesemuanya uang tersebut murni dari Ibu Soewartini. Kemudian Pa Sri Gutomo men-design n merancang bentuk bangunan; dari pendopo sampai rmh induk (dari utara membujur ke selatan. Dimana setiap polanya bangunan tsb ada “mengandung makna” ttg manusia.

Soewartini “digembleng” Sri Gutomo; Dalam konteks ini Bopo mempunyai “cara” yg unik dalam menggembleng Ibu Sri; mungkin karena “waktunya” yg sangat terbatas, sehingga menggunakan cara unik itu. Yang dimaksudkan “unik” yaitu sangat mudah main bentak, mata melotot bahkan tidak jarang keluar kata2 yg “kasar”. Lha ! Bu Sri dari lingkungan ningrat, diperlakukan halus oleh keluarganya, awalnya sangat kaget. Hanya karena SEMANGAT ingin membangun mental bangsanyalah Ibu Sri bisa bertahan. Paling jika sudah tidak tahan, ia cuma menangis dikamar atau curhat kepada Ibu Sudir (Lumajang-Jatim). Dalam bercerita beliau mengenang penggemblengannya itu sambil sedikit mengeluarkan air mata. Para Remaja yg menyaksikan jelas ikut sedih. Kalau bapak-bapak (Pak Sabaryoto, apalagi Pak Saparjo dll) yang bertanya pada Pak Sri ttg ajaran; wah….Pak Sri dgn semangat bercerita, menerangkan dengan detil. Bu Sri hanya depipis dipojokan menungu perintah, sambil menyimak apa yg Pa Sri wejangkan. Akan tetapi jika yg bertanya Bu Sri: Pak Sri langsung membentak : “Kowe Jeng ! isone mung tekon, saiki sujud ! tekon dewe karo Gusti Allah! Goleki dewe!” Lha koq Bu Sri manut wae…..trus patrap sujud. Setelah Sujud usai, Bu Sri masih duduk diam ditempatnya. Dan…ternyata maksudnya Pak Sri, agar Bu Sri mengerti dengan sendirinya “ora mung tembung jarene”, dimana landasan yg kuat dalam pendalaman itu lewat “keprihatinan” yang dibuat Pa Sri (dgn bentak dan marah itu). Akhirnya Bu Sri mengakui buah dari jerih payahnya mendalami sendiri. Beliau dapat menerima “dawuh/petunjuk” dari Hyang Maha Kuasa. Dan jelas beliau berterima kasih pd Sri Gutomo. Sehingga beliau dalam “racut” bisa sambil masak, naik sepeda, kepasar dll. (tanya deh mas Budi Wiyono, ia pernah diceritani oleh Bu Sri ttg itu)

RENUNGAN; dlm suatu ceramah mlm Jumat Wage di SCSR; Sri Pawenang bertanya pd audiens sambil tersenyum ramah: “Poro Wargo sedoyo!!! poro bapak, poro ibu lan poro sederek kabeh; niki kabeh sing neng kene yo…wargo Sapto Darmo sedoyo toh?” warga dgn semangat dan suara lantang spontan membuat koor “Inggih Bu………sedoyo wargo niki !!!” jawabnya dgn nada bangga, sambil mengangkat tangannya tinggi2. Bu Sri tersenyum lagi bagai melihat anak2nya yg balita bersikap nakal. “Saniki hayo….ngacungke tangan, sinten ingkang sampun Sapto Darmo?” sambil memandangi keseputar sanggar dgn senyum yg masih mengambang. Dan…….tiba2 suasana yg gaduh tadi menjadi hening. tak ada yg bersuara. mereka terperangah atas pertanyaan yg menikam. (Siapa yg sdh sapto darmo, dlm bathin mereka bertanya pd dirinya sendiri). Melihat ini semua, Bu Sri tertawa kecil sambil terpingkal-pingkal; katanya: “Nggih… sedoyo meniko taksih ajar ko yoh?; pancen ora gampang, lunyu-lunyu paneken; wong niku sing penting ojo RUMONGSO lan kudu biso NGRUMANGSANI” dst..bla…bla…….

  1. 2 September 2014 pukul 12:10

    Hello! I could have sworn I’ve been to this site before but after checking through some of the post I realized it’s new to me.

    Anyhow, I’m definitely happy I found it and I’ll
    be bookmarking and checking back often!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: