Beranda > Sejarah > Riwayat Penerimaan Wahyu Ajaran Kerohanian Sapta Darma

Riwayat Penerimaan Wahyu Ajaran Kerohanian Sapta Darma

Riwayat penerimaan wahyu ajaran krohanian Sapta Darma, berlangsung secara terus-menerus berupa wejangan tulis tanpa papan (Sastra Jendra Hayuningrat) melalui sarana Sujud, selama 12 tahun sampai wafatnya BAPAK PANUNTUN AGUNG SRI GUTAMA [penerima wahyu ajaran] tanggal 16 Desember 1964.

Istilah yang ada di dalam Kerohanian Sapta Darma adalah istilah asli, dalam arti istilah-istilah tersebut didapat dari hasil penerimaan yang datangnya dengan tiba-tiba/sekonyong-konyong dalam keadaan yang luar biasa, dengan saksi-saksi yang berganti-ganti.

  • Tanggal 27 Desember1952, jam 01.00 sampai dengan jam 05.00 diterimanya wahyu SUJUD, sekonyong-konyong si penerima wahyu, Bapak Hardjosapuro, seluruh tubuhnya bergerak dengan sendirinya untuk melaksanakan sujud kepada Allah Hyang Maha Kuasa, secara otomatis diluar kemauannya (tidak dapat ditahan dengan kekuatan hatinya).
  • Tanggal 13 Februari 1953, jam 10.00 diterimanya Wahyu RACUT, artinya mati didalam hidup (mati sakjeroning urip), pikiran seolah-olah mati namun inderanya masih hidup, keadaan rohani/Hyang Maha Suci saat Racut adalah sowan Hyang Maha Kuasa.
  • Tanggal 12 Juli 1954, jam 11.00 diterimanya wahyu SIMBOL PRIBADI MANUSIA, dengan tulisan huruf Jawa SAPTA DARMA, selanjutnya diterima pula WEWARAH TUJUH dan SESANTI anehnya tulisan Wewarah tujuh dan Sesanti memakai huruf Latin. Oleh sebab itu sejak 12 Juli 1954, ajaran sujud tersebut baru mempunyai nama yaitu ‘SAPTA DARMA’.
  • Tanggal 15 Oktober 1954 diterimanya istilah TUNTUNAN, TUNTUNAN SANGGAR dan SANGGAR. Tuntunan adalah orang yang bertanggung jawab atas perkembangan ajaran dan kemurnian ajaran serta kemajuan dan ketentraman warga Sapta Darma. Tuntunan Sanggar adalah tuntunan yang kewenangannya di tingkat Sanggar. Sanggar adalah tempat melaksanakan Sujud menembah kepada Allah Hyang Maha Kuasa menurut keyakinan Ajaran Kerohanian Sapta Darma.
  • Sanggar Candi Busono adalah sanggar yang ada di daerah-daerah. Sanggar Agung Candi Busono adalah sanggar tempat diterimanya wahyu ajaran Sapta Darma di Pare, Kediri, Jawa Timur. Sanggar Candi Sapta Rengga adalah Sanggar Pusat, tempat kedudukan Panuntun Agung Sri Gutomo, Tuntunan Agung Sri Pawenang, di Yogyakarta, di Jl. Surokarsan Mg.II/472.
  • Tanggal 27 Desember 1955, diterimanya wahyu sebutan SRI GUTAMA yang ditandai hujan lebat semalam suntuk.
  • Tanggal 19 Agustus 1956, diterimanya wahyu sebutan Panuntun Agung, sehingga lengkapnya menjadi Panuntun Agung Sri Gutama, yang artinya Pelopor Budi Luhur, dan saat itu pula diterima perintah dari Allah Hyang Maha Kuasa untuk menyebarkan Budi Luhur kepada seluruh umat manusia.
  • Ajaran ini aslinya SAPTA DARMA namun, dengan adanya hasil Seminar Nasional Penghayat Kepercayaan bahwa aliran kepercayaan dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu; Kerohanian, Kebatinan, Kejiwaan, maka Sapta Darma berubah menjadi Kerohanian Sapta Darma, dan satu-satunya aliran Teologi Tradisional yang menggunakan istilah Kerohanian.
  • Ajaran Keroranian Sapta Darma ini dianut di seluruh Propinsi di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri.
  1. 24 November 2011 pukul 16:48

    no coment

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: