SALAM WARAS

Perkenankan kami adalah putra-putri bangsa yang mempunyai idiologi dan idealisme yang tergabung dalam wadah non pemerintah, .kami berniat dengan tulus untuk ikut mendarmabaktikan potensi kami guna kemajuan bangsa dan memberi kontribusi kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Dengan program-program kami yang terlampir dibawah ini.

Karena suatu alasan yang mendesak, bahwa telah terjadi adanya keterpurukan peradaban social, budaya, ekonomi, karakter yang semua itu sering kita saksikan di berbagai media. Sebenarnya masih banyak lagi fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat yang tidak terekspose. Dan seperti kita ketahui bahwa belum ketemunya “win-win solution” yang menjadikan keadaan negera dirasakan aman, nyaman dan tentram oleh rakyatnya. Baca selengkapnya…

DOWNLOAD SEKARANG “REKAMAN AUDIO” Ibu Sri Pawenang, Ibu Sudir dan Pak Purboyo

KEROKHANIAWAN DAN KIAT-KIAT KEDISIPLINANNYA

simbol-pribadi-2.jpgOleh: Remaja KSD Sragen

Harjosapura, adalah seorang PERTAPA profesional yang didedikasikan oleh penjalanan rohani dirinya dan pengikutnya dengan sebutan Sri Gutomo (pelopor budi luhur). Dengan pengalaman bertapa selama 12 tahun, bersamaan dengan itu Harjosapuro telah dapat membuat sebuah sistem kerohanian dimana sebagai salah satu solusi yang dapat  mengembalikan mental Bangsa Indonesia yang terpuruk karena selalu terjajah maupun selalu perang saudara.

Tentu sebagai Sri Gutomo saat itu telah merasa lega karena berhasil mencapai kebebasan berkehidupan yang diidam-idamkan semua pertapa yang mengikutinya, Dan Sebagai orang no.1 di Sapta Darma, beliau tahu segalanya, tahu segala hal,  karena hanya tinggal racut selesai semua permasalahan. Bukankah begitu??? (tidak perlu dijawab). Sebagai seorang PERTAPA sampai bisa ketingkat Sri Gutomo pastinya tidaklah mudah, dari mengalami jatuh bangun, habis modal-daya, hingga dipaksa maju maupun berhenti menjadi pertapa pastinya sudah menjadi bumbu disetiap makanannya. Belum lagi ada benturan/ejekan disana-disini dari orang-orang terdekat maupun dari pihak yang kurang tahu akan tugas-tugasnya. Dibutuhkan “mental baja, otot kawat balung besi” dalam perjalannya hingga sampai mewariskan konsepsi-konsepsi pola hidup disiplin yang tertulis dalam buku dasawarsa, salah satu konsepsinya seperti “Warga maupun tuntunan di tuntut meluangkan waktu untuk kebutuhan rohani 5 jam sehari”, ITU SUDAH CUKUP.

Penulis sempat juga membaca kisah perjalanan Bopo di buku sejarah, perjalanannya sangat luar biasa, dari mulai mendapatkan wahyu sampai wafatnya diceritakan disitu. Tp penulis sempat tercengang, Apakah ini benar atau tidak?”ANGGAP SAJA ANGIN LALU”, di buku sejarah waktu wafatnya “Mbah Harjosapuro” disebutkan bahwa beliau wafat, badan-tubuhnya beliau masih hangat sampai di kremasi. Anggapan penulis, apa saat itu mbah harjosapuro masih hidup “Cuma dalam MODE RACUT”?. Kenapa kok terburu-buru di kremasi??? Kenapa kok tidak menunggu dulu 3-7 hari dulu??? (Ups, maaf hanya beranggapan saja). Dalam buku disebutkan bahwa posisi racut seseorang memang tidak bernafas sama sekali. Dan Sedikit CERITA sedikit tentang kakek saya almarhum karena mungkin ada hubungannya, kakek saya seorang kejawen tetapi bukan warga Sapta Darma, ajarannya hanya belajar mati sak jroning urip, posisi belajar matinya juga seperti di sapta darma yaitu posisinya tidur. Waktu itu jika kakek saya sedang lelaku mati di sebuah kamar atau di sebuah goa deket rumahnya, pesannya tidak boleh diganggu sama sekali, biarpun tidak bernafas “mati”. Pesan kakek jangan diganggu sampai kakek bangun dengan sendiri. (Begitu ceritanya)

Kembali ke topik, Konsepsi bopo yang luar biasa yaitu tentang kedisplinan, hanya untuk membagi waktu 5 jam sehari saja untuk kebutuhan rohani itu tidak mudah. Penulis mengamati, kenyataan saat ini khususnya remaja jarang yang melaksanakan secara kontiyu karena berbagai macam alasan, padahal di buku dasawarsa alasan apapun tidak dapat diterima. Dalam buku wewarahpun disebutkan “minim sujud 1 kali sehari”.  Bagaimana menanggapi tentang kedisiplinan tersebut??????

 

Tips & Trik Kedisiplinan Rohani

Kedisiplinan rohani tidak semudah kita mengatur disiplin secara jasmani, contohnya sujud dua kali sehari tidak mudah dilakukan seperti mandi dua kali sehari. Dan tidak mudah mendisiplinkan seperti makan tiga kali sehari, ini adalah faktanya. Banyak warga maupun tuntunan yang JATUH TUMBANG hanya dikarenakan tidak bisa mengatur kedisiplinan, DAN Banyak juga yang jatuh sakit, jatuh terpuruk secara ekonomi, jatuh masalah keluarga, dll hanya karena tidak bisa mengatur kedisiplinan rohani. Inilah hebatnya di Sapta Darma, jika tidak disiplin mengolah rohani maka pelilaku atau mode wening akan mudah terputus sehingga eling dan waspada berkurang yang akhirnya mudah membuat warga untuk melakukan kesalahan. Dan inilah hebatnya di Sapta Darma: “SALAH PISAN KENA PISAN”,  karma itu sangat cepat berlaku jika warga melakukan suatu kesalahan.

Pertapa profesional seperti Ibu Sri Pawenang sampai memberi wejangan: “ Dahulukan Rohani maka jasmanimu akan mengikuti”, “sinau o sujud nganti nglonyoh”. Dan Bopo juga begitu, secara fisik meninggalkan berkeluarga (kejasmanian) demi untuk mengembangkan ajaran. Anggapan penulis Disiplin secara rohani bukan berarti banyaknya melakukan sujud tetapi bagaimana dapat memposisikan agar supaya tetep sfer pada keweningan dalam setiap harinya. Semua pertapa profesional di Sapta Darma ini wajib mengalami jatuh kemudian bangun lagi. Pengamatan penulis di Sapta Darma, tidak jarang warga jatuh sakit tapi tidak bisa menyembuhkan secara pribadi, melainkan dibawa kerumah sakit atau minta bantuan orang lain. Padahal dalam buku wewarah diajarkan penyembuhan orang sakit secara sapta darma, kenapa bisa kedlarung-dlarung sampai tidak bisa menyembuhkan secara pribadi?mungkin dikarenakan kurang bisa mengatur kedisiplinan rohani.

Tahun 2004, Pengalaman terpuruk penulis alami saat jatuh sakit, hingga dokterpun tidak tahu sakit dan sebabnya. Ampun sampai akhirnya saya memutuskan untuk menyembuhkan sendiri dengan cara Sapta Darma, saya tidak keluar kamar semala 2 minggu. Dalam renungan, sakit karena saya tidak bisa mengatur tentang kedisiplinan, saya lepas kendali, jarang sujud dan akhirnya tidak sujud sama sekali selama setahun hingga jatuh sakit. Tapi saya engga menyalahkan Sapta darma, saya sadar itu kesalahan saya. Saya bisa konsisten disiplin kok sebelumnya. Setelah sembuh dari sakit, Bagi saya dunia sapta darma ini seperti puzzle yang harus saya pecahkan setiap hari. Dan bagi saya ini menyenangkan.

Perlu dibutuhkan modal yang besar supaya dapat mempunyai mental yang kuat dan akhirnya bisa mempunyai pola kedisiplinan yang luar biasa. Modal besarnya adalah hanya keyakinan untuk mencapai kesempurnakan lahir-hidup-mati (manghayu bagya bawana). Modal ini adalah dasar yang paling dasar (visi)  yang tertulis di bab paling depan di buku wewarah. Modal-mental disini, bagaimana untuk teratur dan mengontrol diri. Teratur mengelola waktu dan akhirnya teratur mengelola hidup.

Sulit manage waktu dan mengontrol diri. Karena bisa setiap saat menyaksikan pergerakan pola hidup kita. Mungkin ini karena commit pada 1 hal, maka rasanya tidak mau lepas dari pergerakan hidup. Saya rasa ini juga terjadi pada banyak pertapa lain. cara menanggulangi permulaannya bikin saja diri ini seperti robot, karena robot tidak berfikir tetapi jika sudah on dapat bekerja tepat waktu sesuai program yang ditentukan. Selanjutnya tidak boleh dirubah-rubah. Supaya hal ini untuk menanggulangi faktor psikologis kita sendiri agar tetap sfer-hening atau stick to the plan yaitu TEKUN-TEKAN-TEKEN.

Awal menjadi warga dan suka terhadap sapta darma, tentunya banyak mencari, mencoba dan mempelajari tentang semua di sapta darma, tanya tuntunan kesana-kemari, baca buku apapun tentang jawa maupun sapta darma. Saya kira normal, dan mungkin banyak juga warga yang pada awalnya seperti itu. Namun lama kelamaan malah membuat ribet, analisa saya karena terlalu banyak faktor yang diperhatikan. Akhirnya enaknya kembali saja ke yang paling basic dan simple, yaitu yang penting tekun, g neko-neko nantinya takan kemudian menjadi teken.

Disaat kita ngalor-ngidul mutar-muter kesana-kemari mencari jati diri, agama semua dipelajari, ilmu kejawen semua dipelajari tetap saja, sapta darma membuka mata kita. Dimulai Pengolahan sapta rengga hingga dapat didarmakan dan selanjutnya memposisikan darma itu kembali ke sapta rengga kita. Sapta menjadi darma kemudian darma bisa menjadi sapta.

Kesimpulan

Melalui wawasan diatas, kita telah belajar bahwa selain harus siap modal, mental pun harus siap digenjot. Untuk mencapai kebebasan berkehidupan yang kita impi – impikan bukanlah hal yang mudah dan butuh perjuangan keras, namun bukan pula hal yang mustahil untuk diraih.

Akhir kata, Bagi penulis, kalau dibilang sebagai pertapa sukses juga belum ya, tapi ini sebagai pembuktian bahwa disapta darma mampu menyediakan sebuah tempat “berteduh” yang aman dan nyaman bagi para pertapa, untuk mencapai kesempurnaan keselarasan keseimbangan berkehidupan, manghayu bagya bawana, sekian

 

Salam Waras

Baca selengkapnya…

PENGOBATAN PECANDU NARKOBA SECARA KSD

PENGOBATAN NAPZAOleh: Remaja KSD Sragen

Mengingat semakin banyaknya pemakai dan pecandu narkoba di Negeri Indonesia tercinta ini, perkembangannya sangat pesat seperti Amerika di era 1980an. Narkoba dan seks bebas sudah masuk dalam dunia pelajar SD-SMP-SMU, pembuktian kasus yang kecil saja: coba saudara cek kebenarannya, Tanya kepada anak-anak SMP tentang pil kirik pastinya tren untuk sekarang ini, PIL KIRIK banyak dikosumsi ABG dikarenakan lebih enak, lebih fly, tidak berbau, bisa untuk sejuta umat bisa cewek maupun cowok dan harganyapun lebih murah. Awalnya mengkonsumsi dosis kecil-kecilan selebihnya sampai juga mengkonsumsi narkoba yang mahal harganya seperti sabu, putai, kokain atau yang lainya. Terjerat kedunia ini perjalananya sangat halus sekali sampai tidak tersadarkan diri bahwa menjadi seorang pecandu. Istilah jawanya “kumpul-kumpul dadi kempul”.

Kalau sudah FIX menjadi pecandu maka seorang pencandu narkoba tidak mudah untuk mampu menyembuhkan diri sendiri, hal itu dikarenakan dalam tubuhnya membutuhkan zat adiktif yang telah terbiasa dikosumsinya. Seperti halnya seperti perokok, berhentinya apabila sudah blesek/sakit yang memaksa untuk berhenti. Artinya dengan bujuk rayu apapun tidak mudah membujuk seorang pecandu untuk sembuh atau pulih. Saat ini berbeda dengan jaman dulu, orang mudah menerima saran orang lain, tapi sekarang saran-saran itu mental atau hanya lewat saja, lebih-lebih menyarankan kepada orang yang tidak butuh saran bisa-bisa mengakibatkan percekcokan. Cara-cara pendekatan secara emosionalpun tidak mudah mempan karena si pecandu terbelenggu oleh asyiknya emosional pribadinya sendiri dan seorang pencandu emosionalnya sangat sensitif sekali (mudah marah dan perasa).  Baca selengkapnya…

ENING (SAMADI)

549325_496115777111448_610161693_nYang dimaksud ening /samadi ialah : menentramkan pikiran (pangrasa) yang beraneka warna angan–angan dan sebagainya. Dengan demikian mesti badan bergerak asal hal di atas telah dilakukan maka dapat dikatakan seseorang telah ening.

Sebaliknya meskipun tubuh kelihatan tenang tetapi pikiran angan–angan dan sebagainya masih kesana kemari, maka belum dapat dikatakan orang itu telah ening.

Ening samadi pada Kerokhanian Sapta Darma tak diperkenankan di
pakai atau digunakan untuk bermain–main, sebab dalam hal ini
dilakukan dengan menyebut/meluhurkan Asma Allah.

Diperkenankan ening bila melakukan pekerjaan/tugas yang luhur seperti misalnya:

1. Menerima perintah–perintah dari Hyang Maha Kuasa yang berupa isyarat/tanda–tanda, gegambaran–gegambaran, tulisan–tulisan, petunjuk–petunjuk (sastrajendra hayuningrat).

2. Memeriksa arwah orang tua/nenek moyang yang telah meninggal, bagaiman keadaannya sudahkahditerima di hadirat/sisi Hyang Maha Kuasa (di kasuwargan) atau belum. Bila masi di dalam pasiksan maka kitaa lakukan sujud, untuk mohon ampun dan bertobatnya arwah
tersebut akan segala dosa–dosa yang telah dilakukan semasa hidupnya di dunia. Sehingga dengan demikian dapat diterima/diangkat dari alam pasiksan, dan ditempatkan di tempat yang lebih baik.

3. Melihat tempat–tempat yang wingit (keramat = angker) dimana penghuni tempat itu banyak mengganggu manusia. Penghuni yang demikian dapat disingkirkan atau tempat tersebut ditawarkan/hambarkan.
Dengan ening penghuni dapat diketahui ujudnya, bagaimana roh penasaran atau setan –setan yang ada disitu: setelah diketahui maka
lalu roh tersebut dimohon ampun pada Hyang Maha Kuasa agar dapat ditempatkan di tempat yang semestinya, serta upaya tidak lagi
melakukan gangguan pada manusia.

4. Ening dapat dipakai guna mendahului segala tindakan atau tutur kata dengan maksud melatih kesabaran dan sifat yang berhati–hati guna menuju kebijaksanaan. Dengan demikian sikap, langkah, tindakan serta tutur katanya menjadi selalu benar.
Dalam hal ening dapat dilakukan dengan mata terbuka atau terpejam.

5. Guna melihat saudara/keluarga yang jauh yaitu bilamana ada keperluan yang penting sekali dan ada perasaan yang mendorong untuk itu.

(PETIKAN DARI BUKU WEWARAH)

SALAM WARAS

PENYEMBUHAN ORANG SAKIT SERTA CARA–CARANYA

GambarPenyembuhan yang dilakukan oleh Warga Sapta Darma adalah penyembuhan di jalan Tuhan. Artinya melakukan penyambuhan itu dilaksanakan atas kuasa dan sesuai dengan petunjuk–petunjuk dari Hyang Maha Kuasa. Bagi Warga Sapta Darma diwajibkan pula menolong mengobati pada umat sekalian yang sedang sakit apabila diperlukan.

Pertolongan dalam hal ini dilarang sama sekali untuk mengharapkan balas jasa, baik berupa apapun saja selain berdasarkan atas cinta kasih atau belas kasihan. Jadi melulu menjalankan sikap Kerokhanian Allah. Baca selengkapnya…

PERUWATAN MAKAM PUJANGGA RANGGA WARSITA

GambarAmenangi jaman edan 
ewuh aya ing pambudi 
Melu edan nora tahan 
yen tan melu anglakoni 
boya kaduman melik 
Kaliren wekasanipun 
Dilalah karsa Allah 
Begja-begjane kang lali
luwih begja kang eling lawan waspada”. (pupuh 7, Serat Kalatidha)

Terjemahan :

Mengalami jaman gila
sukar sulit (dalam) akal ikhtiar
Turut gila tidak tahan 
kalau tak turut menjalaninya 
tidak kebagian milik 
kelaparanlah akhirnya 
Takdir kehendak Allah 
sebahagia-bahagianya yang lupa
lebih berbahagia yang sadar serta waspada”. 

Syair yang sangat terkenal diatas adalah salah satu karangan Pujangga Ronggo Warsito mengajari kita tentang bertakwa kepada Allah, Eling lan waspada, Rame ing gawe dan Mawas diri. Konsep, ide dan gagasan yang sangat kompleks dapat dikemas beliau dengan bahasa yang sederhana, lugas dan mudah dimengerti semua kalangan. Ajaran-syair beliau juga menjadi salah satu pustaka ajaran KSD yang ada di dalam tembang pengiring sujud. Baca selengkapnya…

PERUWATAN MAKAM PAHLAWAN KUSUMA BHAKTI SURAKARTA

523572_512668945456131_764483331_nTanggal 21 Maret 2013, pukul 21.00-24.00 WIB Remaja/warga KSD Wonogiri ( Ken Aru beserta istrinya, timur wong, mas yono, pak sugi) dan Sragen( jarwanto, sukoco, mbah sumardi, sukamsi, widayat) melaksanakan kewajiban (PERUWATAN) di MAKAM PAHLAWAN KUSUMA BHAKTI SURAKARTA (Depan Taman Satwa Jurug Solo).

Sosok pemuda yang gagah berani “Brigadir Jenderal TNI Anumerta Ignatius Slamet Rijadi” wafat di usia 23 tahun merupakan pencetus pasukan khusus TNI yang dikemudian hari dikenal dengan nama Kopassus, dimana makam beliau ada di tengah makam para pahlawan. Di usianya yang sangat muda, pihak lawan yaitu belanda menjadi kagum dengan kepemimpinannya karena Salmet Rijadi ternyata adalah seorang bocah yang dapat mengkomando hingga belanda tak berdaya. Sejarah atau biografi beliau dapat di lihat di link berikut ini: http://id.wikipedia.org/wiki/Slamet_Rijadi . Sekarang ini apabila anda ke solo dan lewat jalan Slamet Riyadi maka anda akan melihat Patung Pahlawan Slamet Riyadi ditengah-tengah jalan depan gapuro alun-alun utara.  Baca selengkapnya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.